Terima Kasih dalam Budaya Aceh

Ilustrasi
HINGGA saat ini, kata “terima kasih” sebagai ungkapan kebudayaan masih simpang siur dalam masyarakat Aceh. Ada yang mengucapkan “teurimong geunaseh” ada pula “teurimong gaseh”. Selain itu, ada pula yang menyebutkan “thanks bôh”.
Simpang siur dan tanda tanya terhadap kata “terima kasih” pun sempat menghiasi beberapa mailinglist. Uniknya, ada yang menyebutkan bahwa dalam bahasa Aceh tidak ada kata “terima kasih”. Ironis, pendapat ini kemudian dijadikan landasan sejumlah orang bahwa ureueng Aceh tidak tahu berterima kasih.
Dilihat dari kosa kata terjemahan, “terima” dalam bahasa Aceh diartikan dengan teurimong; dan kasih diterjemahkan menjadi gaséh. Dengan demikian, ungkapan kebudayaan yang dilisankan dengan kata sukur “terima kasih” seyogianya, jika di-Acehkan, akan menjadi teurimong gaséh, bukan teurimong geunaséh. Hal ini dikarenakan geunaséh sendiri jika diterjemahkan ke dalam bahasa Aceh memiliki makna kekasih atau hasil kasih sayang atau kesayangan. Misalnya ada ungkapan geunaséh Allah yang maksudnya adalah ‘kekasih Allah’, geunaséh poma yang maksudnya ‘kekasih ibu’. Maka kata teurimong geunaséh dapat diartikan dengan terimalah kekasihku. Jelas sekali ini terjemahan keliru.
Jika yang dimaksudkan pada kata “terima kasih” sebagai wujud rasa sukur atas apa yang sudah diterima seseorang, lantas dia hendak melisankan rasa sukur tersebut dalam artian sebagai balas budi kepada si pemberi, mesti dilihat kembali kebudayaan yang berlaku di daerah tertentu tersebut. Aceh misalnya, sejak zaman nenek moyang ureueng Aceh, tidak dikenal istilah terima kasih. Jika seseorang menerima pemberian, orang yang menerima akan mengatakan “Alhamdulillah…”. Terkadang, di kampung-kampung, oleh orang tua-orang tua akan menyambung lagi dengan doa semoga mudah rezeki kepada si pemberi. Ungkapannya lebih kurang “Alhamdulillah..beumudah raseuki.” Ucapan ini yang dilisankan si penerima, bukan teurimong geunaseh.
Perlu dilihat kembali, ada dua hal yang terjadi dalam tindakan terima kasih, yaitu adanya penerima dan pemberi. Maka ungkapan terima kasih merupakan wujud tindakan verbal atas apa yang diterima seseorang. Artinya, kata terima kasih mengacu kepada dua hal tersebut; memberi dan menerima. Oleh karena itu, penerjemahan bahasa yang dilakukan dari bahasa kedua, termasuk bahasa asing, mestilah tidak dilepaskan dari kultur bahasa pertama. Penerjemahan yang salah kaprah, dalam kebahasaan dinamakan dengan interferensi.
Dalam bahasa Aceh memang banyak interferensi, termasuk dari bahasa Indonesia. Sayangnya, ini disebabkan oleh masyarakat Aceh sendiri. Tanpa disadari, kadang masyarakat Aceh sendirilah yang menghancurkan bahasa daerahnya sehingga suka serap menyerap bahasa lain ke dalam bahasa Aceh. Meskipun kita sadari tidak ada bahasa yang lengkap di dunia ini, sejatinya penerjemahan dan penyerapan dari bahasa kedua ke dalam bahasa pertama (baca: bahasa Aceh) mesti tahu aturan.
Budaya Syukur
Dari segi budaya, ungkapan terima kasih orang Aceh jelas berbeda dengan orang Melayu umumnya apalagi orang Barat. Pada budaya Aceh, terima kasih sebagai rasa sukur tidak diungkapkan melalui bahasa, tetapi lebih kepada tindakan. Artinya, dalam kultur masyarakat Aceh tidak terbiasa menerima pemberian tanpa hasrat hendak membalas pemberian tersebut.
Misalkan saja dalam kehidupan bulan puasa. Kebiasaan masyarakat di kampung-kampung ada yang memberikan penganan berbuka; apakah antartetangga atau anak kepada orangtua dan sebaliknya. Nah, mereka tidak hanya memberi, tetapi juga menerima setelah memberi. Padahal, mereka memberi ikhlas, tidak mengharapkan balasan.
Lebih jelasnya, saya ilustrasikan berikut ini. Aminah memberikan boh rôm-rôm kepada Syukriah. Ketika hendak pulang, Aminah tidak membawa pulang piring atau rantangnya dengan kosong, meskipun Syukriah berkata, “Sebentar ya, saya kosongkan dulu rantangnya.” Ketika rantangnya dikembalikan oleh Syukriah, Aminah akan mendapatkan ‘tukaran’ penganan berbuka yang lain dari Syukriah. Ini merupakan tindakan verbal dari ungkapan terima kasih Syukriah.
Artinya, ada pemberian, ada penerimaan. Bukan berarti setiap pemberian itu mengharapkan imbalan. Namun, budaya ini sudah hidup dalam masyarakat Aceh sejak zaman dahulu. Ada rasa tidak enak jika sudah menerima tetapi tidak memberi. Meskipun sedikit (alakadar) si penerima akan berusaha memberikan imbalan atas apa yang diterima, jika tidak pada saat itu, lain waktu. Kebiasaan ini bermula dari reusam dalam kehidupan masyarakat Aceh. Namun, orang-orang sering menganggapnya sebagai budaya. Hal seperti ini masih berlangsung di kampung-kampung di Aceh. Hanya saja barangkali kita yang tinggal di kota melupakan tradisi ini sehingga kita katakan orang Aceh tidak tahu berterima kasih. Akan tetapi, tentu saja ini tidak berlaku bagi semua orang yang tinggal di kota. Bagi mereka yang memiliki rasa keacehan, tatkala menerima sesuatu dari seseorang, pasti ada timbul hasrat untuk membalas pemberian tersebut. Inilah orang Aceh.
Ada pun tindakan nonverbal (bahasa) terima kasih ureueng Aceh biasanya langsung ditujukan kepada Yang Maha Pemberi. Hal ini terwujud dalam ucapan Alhamdulillah, karena semuanya bermula dan datangnya dari Allah swt. Jadi, salah besar jika ada yang beranggapan ureueng Aceh tidak tahu berterima kasih karena dalam bahasa Aceh tidak ada ungkapan serupa ‘terima kasih’. Padahal, dalam bahasa Inggris ada thank you, bahasa Prancis ada merci, bahasa Arab ada syukran, bahasa Jepang ada arigato, dan sebagainya. Bahasa Gayo sendiri memiliki ungkapan terima kasih, yakni berejen. Akan tetapi, dalam bahasa Aceh, memang tidak ada ungkapan serupa itu. Ureueng Aceh berterima kasih langsung kepada Allah swt. yakni dengan ucapan ‘segala puji bagi Allah’.
Namun demikian, ada juga sebagia orang Aceh berpendapat bahwa ungkapan terima kasih dalam bahasa Aceh adalah sabah. Hingga saat ini saya belum memiliki literatur dari mana asal kata sabah ini. Pasalnya, ada yang menyatakan sabah itu bukan pengganti kata terima kasih. Hanya saja ungkapan tersebut pernah digunakan orang-orang tua zaman dahulu saat memberikan sesuatu kepada anak-anaknya sambil menggerak-gerakkan tangan agar tidak meminta lagi karena kanak-kadang memang suka meminta-minta. Ada pula yang menyebutkan sabah diambil dari bahasa Arab subuh yang kemudian menjadi sabaha dan sabah. Ada pula yang menyebutkan sabah dari kata ghalabah, yang maksudnya sarang laba-laba. Saya tidak tahu persis tentang hal ini. Akan tetapi, kata Alhamdulillah memang sering diungkapan masyarakat Aceh saat menerima sesuatu dari seseorang. Karena itu, Alhamdulillah-lah sejatinya ungkapan terima kasih masyarakat Aceh. Wallahu’alam.[]
Oleh Herman RN, alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Unsyiah.
Category: Esay
















Keluarga Besar Lembaga Budaya SAMAN berduka sedalam-dalamnya atas kepergian Penyair Aceh Asnawi Aida Manggeng (A.A.MANGGENG). Meninggal dunia Sabtu 27 Maret 2010 jam 01:30 di RSU ZA, Banda Aceh, dikebumikan di Manggeng Abdya. Ia telah pergi, tinggal kenangan bagi yang pernah bersua dengannya, tinggal menikmati karyanya bagi generasi. Selamat jalan sobat, kau telah mencatat diri di bumi ini, karya-karyamu kan abadi.
Ya, benar. Mendiang kakek dan nenek dulu setiap menerima pemberian dari seseorang selalu melafalkan ucapan itu, “Alhamdulillah, beumudah raseuki, beupanyang umu, beuseulamat seujahtera”. Itu juga yang diajarkan kepada anak-cucunya. Terkadang kami latah mengikuti trend terkini dengan ucapan “terima kasih banyak beuh’ tapi selalu ditegur. “Neukheun Alhamdulillah hai neuk bak meutuah…”
Ada lagi yang lebih keren: thank you beh.
Ketiadaan padanan kata terimakasih dalam bahasa Aceh tidak berarti menunjukkan bangsa Aceh tidak tahu berterimakasih, cuman mereka menempatkannya tidak dalam relasi sejajar habbulum minannas, seperti dipraktekkan hampir oleh semua bangsa di muka bumi ini, tetapi dalam relasi vertikal habbulum minallah : Alhamdulillah (seperti dikatakan Nurlina). Kenapa? karena dalam konsepsi orang Aceh semua milik Allah, tidak ada yang bukan milik Allah. Tidak ada yang namanya milikku atau milikmu. Bahkan AKU dan KAMU sendiri juga milik Allah, so oleh karena itu hanya kepada Allah-lah kita harus berterimakasih.
Kalau kata sabah, betul berasal dari bahasa arab, yang lebih dekat diasosiasikan maknanya dengan “selamat pagi”. Jadi, keyakinan saya, tidak nyambung jika dipadankan dengan kata terimakasih.
That is it Bro?
Bang Bulman Satar Yth. terima kasih komentarnya… sangat menarik dan mencerahkan. Saya kopi paste bunyi awal paragraf dua paragraf yang terakhir di sini ya.
Ada pun tindakan nonverbal (bahasa) terima kasih ureueng Aceh biasanya langsung ditujukan kepada Yang Maha Pemberi. Hal ini terwujud dalam ucapan Alhamdulillah, karena semuanya bermula dan datangnya dari Allah swt. Jadi, salah besar jika ada yang beranggapan ureueng Aceh tidak tahu berterima kasih karena dalam bahasa Aceh tidak ada ungkapan serupa ‘terima kasih’.
regard,
RN