Subscribe via RSS Feed Connect with me on Flickr
banner

Lut Tawar, Mitos dan Claude Lèvi Strauss

CATATAN PERJALANAN

Musmarwan Abdullah

FOTO: Musmarwan Abdullah

SAYA pernah menjejakkan kaki di sebagian pinggiran Danau Laut (Lut, Gayo) Tawar. Itu duapuluhlima tahun lalu. Sudah buram dalam memori mengenai kesan saya kala itu. Pada Sabtu, 28 November, tepatnya hari kedua lebaran Idul Adha 1430 H, saya kembali hadir di sana bersama seorang kawan, Thayeb Loh Angen, penulis novel Teuntra Atom.

Thayeb mengaku sepanjang usianya baru kali ini menapak kaki di Takengon. Thayeb lahir dan besar di Paloh Dayah, Muara Satu, Lhokseumawe. Antara Takengon-Lhokseumawe hanya berjarak sekira 8 jam perjalanan dengan bus umum. Tak seberapa jauh untuk ukuran dua daerah dalam sebuah provinsi. Thayeb sudah melanglang buana hingga Jakarta. Takengon yang dekat, tak terduga. Kata orang, itu gejala Blind Impulse. Biasalah.

“Percaya atau tidak, tapi inilah kenyataan. Tanpa disadari, ternyata setiap tahun Danau Lut Tawar selalu menelan satu nyawa manusia. Kali ini yang menjadi mangsanya adalah Safwan (15) warga Kampung Bukit Menjangan, Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah,” demikian tulis beberapa surat kabar yang terbit di Aceh, edisi 30 November 2009.

Saya yang membaca koran-koran itu di Sigli tersentak oleh perasaan aktualitas-diri. Masalahnya kejadian itu berlangsung pada hari di mana saya dan Thayeb ada di Danau Lut Tawar. Antara Sigli-Danau Lut Tawar jauhnya sekira sepuluh jam perjalanan dengan bus umum. Sangat jauh untuk ukuran pergi tanpa persiapan matang. Bahkan di dua kali kehadiran saya di sana, interval waktu menganga 25 tahun. Kehadiran terkhir yang cuma hanya sebentar dan esoknya diberitakan ada peristiwa memilukan di sana, wajar saya tergugah. Barangkali karena itu jua tulisan ini menjadi ada.

“Jadi pergi ke Lhokseumawe?” tulis Arafat Nur dalam sekalimat SMS yang masuk ke Hp saat saya dan Thayeb baru bangun dari tidur pulas di sebuah balai-balai tepi Lut Tawar. Kami terkapar di situ dari pukul 6 pagi hingga pukul 11 menjelang siang. Soalnya tadi malam, antara pukul 22.15 wib dari Sigli, sepanjang kegelapan kami tempuh dengan sepeda motor di bawah rinai hujan di sela-sela lembah dan bukit hingga pukul 05.00 wib baru tiba di Takengon. Jadi, semalaman tak tidur.

Arafat Nur adalah seorang novelis Aceh yang lima karya novelnya sukses diterbitkan tiga penerbit Jakarta dan beredar di seluruh Indonesia. Sementara pada Mei 2007, novel karya sastrawan berusia 35 tahun penduduk Gampong Kandang, Lhokseumawe ini diterbitkan atas kerjasama Aliansi Sastrawan Aceh dan BRR NAD-Nias.

“Tadi malam dari Sigli menuju ke Lhokseumawe. Tapi tiba di perempatan Bireuen, stang TVS Thayeb berkeras ke haluan kanan, ke Nanggroe Antara. Sekarang kami ada di tepian Laut Tawar,” balas saya via SMS juga. Nanggroe Antara adalah sebutan legendaria untuk dataran tinggi Gayo. TVS Thayeb adalah sepeda motor milik Thayeb yang mereknya TVS Apache. Pada sebuah komentar di halaman facebook, seorang kawan kami, Zoelfadlie Kawom, mengistilahkan perjalanan itu sebagai “TVS Journey”.

Man peu, tahubungi si Salman?” tanya Thayeb ketika kami hendak beranjak dari balai-balai itu. Saya jawab, tak apa-apa. Mungkin Salman lagi sibuk silaturrahmi dengan kerabat keluarga dan handai taulan. ‘Kan ini baru dua lebaran?

Salman adalah Salman S Yoga, sastrawan muda Aceh yang berasal dari dataran tinggi Gayo. Karya terakhir penulis yang juga dosen ini adalah “Tungku”, sebuah novel berlatarbelakang kerancuan tatanan hidup masyarakat akibat konflik Aceh-Jakarta.

Kepada seorang lelaki penduduk setempat kami bertanya, berapa jauhnya jalan di selingkaran Danau Laut Tawar. “Saya kira, kalau tak salah, empat kilometer,” jawab lelaki setengah baya itu ragu. Dari percakapan alakadar berikutnya, kami maklum atas jawabannya. Rupanya dia orang Aceh Tamiang. Isterinya orang Gayo. Mereka tinggal di Kuala Simpang. Dia tak hafal betul tentang semua perihal kampung isterinya mengingat pulang ke Gayo cuma setahun sekali di saat-saat lebaran seperti ini.

Baik. Kami pegang empat kilometer. Kalau lebih dari itu, kami terpaksa urungkan niat untuk mengelilingi Laut Tawar. Soalnya, jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Kami harus irit waktu mengingat jangan sampai kemalaman lagi di jalan pergunungan ketika pulang nanti. Dan kami pun berpacu dengan waktu mengelilingi Danau Laut Tawar.

Memacu sepeda motor dengan kecepatan rata-rata 40 kilometer/jam, naik-turun di sepanjang ngarai Lut Tawar, meliuk-liuk di belokan yang umumnya berhaluan kiri, rasanya sudah lebih sejam, tapi kami toh belum sampai juga ke tempat asal berangkat tadi, Kota Takengon.

“Rasanya bukan empat kilometer,” kata saya. “Ya, rasanya sudah lebih sepuluh kilometer kita lewati,” ujar Thayeb. Dan sambung dia, “Kalau tahu sejarak ini, mungkin tadi kita sudah urungkan niat untuk meraun sekeliling Danau Laut Tawar.” Kata saya, “Berarti tadi itu boleh dikatakan kesalahan informasi yang membawa hikmah. Gara-gara kesalahan itu kita sudah berhasil mengelilingi Laut Tawar hari ini. Kalau tidak, mungkin tahun depan pun belum tentu. Ini ironis, sementara orang Belanda sudah pernah beranak-bercucu di sekeliling danau ini.”

Lantaran penasaran, ketika tiba di Sigli keesokan harinya, saya segera mengklik Situs Resmi Kabupaten Aceh Tengah yang ada dalam Situs Wikipedia di internet. Dan dikatakanlah di sana: Danau Laut Tawar adalah sebuah danau dan kawasan wisata yang terletak di dataran tinggi Gayo, Takengon, Aceh Tengah. Luasnya kira-kira 5.472 hektar dengan panjang 17 kilometer dan lebar 3,219 kilometer. Volume airnya kira-kira 2.537.483.884 m3 (2,5 Trilyun liter).

Berikut: Danau Laut Tawar memiliki 25 aliran krueng dengan total debit air kira-kira 10.043 liter per detik dengan rata-rata kedalaman tertingi adalah 51,13 meter dan kecerahan tertinggi 2,92 meter di tengah danau. Semakin tinggi kecerahan maka semakin jernih.

Terus: Ada beberapa fauna yang hidup di danau Laut Tawar yaitu, 3 jenis Molusca, 1 jenis Annelida, 37 jenis ikan dan 49 jenis serangga. Sedangkan untuk hewan yang hidup di sekitar danau ditemukan 20 species mamalia yang terbagi atas 13 famili. Beberapa di antaranya termasuk hewan yang dilindungi, antara lain binturung, pukas, tringgiling, landak, kancil, napu, owa, siamang, tanado, harimau, kucing hutan, rusa dan kijang.

Lho, tentang negeri sendiri, sumber informasinya kok musti di internet? Aduh, bagaimana, ya? Akan saya katakan ini saja. Bahwa Belanda, Jepang dan Jakarta silih berganti membuat kami menjadi begitu terasing bagi setiap sudut di negeri kami sendiri. Dari 1873 hingga 1943 yang kami tahu adalah bagaima kami mempertahankan agama kami. Dari 1943 hingga 1945 yang kami tahu adalah bagaimana kami mempertahankan negeri kami. Dari 1945 hingga 2005 yang kami tahu hanyalah bagaimana kami mempertahankan nyawa kami.

Lihatlah, demikian menyita segala sumber daya hingga terabaikan segala rasa ingin tahu kendati buat sekedar mengintip dengan tatapan tanpa daya seberapa ribu kapal sudah air tulang indatu kami diangkut ke antero semesta untuk menghidupkan kompor-kompor buat memasak eumpeuen takue orang. Itu bukan sekedar apologi kendati hingga hari ini belum ada seorang pun di antara kami yang bersumpah untuk mencatat jarak kedalaman Lut Tawar dari hasil selaman badan sendiri.

Bmi menjadi begitu terasing di negeri sendirierlalu manja denganegitulah, karena kami hanya sekedar berkeliling, tentu tak sempat menikmati keindahan pedalaman seperti aliran sungai dan keragaman flora-fauna di hutan dan bukit sekeliling Lut Tawar. Cuma beberapa bunga liar yang tumbuh di tepi ngarai sempat saya potret. Begitu juga tentang fauna, hanya ketika hendak memotret Thayeb yang tengah menikmati alam danau, seekor anjing melintas di belakangnya, jpret, jpret, jpret, sekedar itu sempat saya abadikan. Karena kebetulan pula, saya sangat menyukai anjing.

Sebagai masyarakat agricultural, anjing termasuk piaraan utama dalam masyarakat Gayo sebagai penyelamat tanaman dari gangguan hama babi, landak, kera dan binatang lainnya. Dan mengenai Lut Tawar yang dipercayai masyarakat setempat sebagai ada “penunggu” dalam wujud makhluk mitologi, di mana tiap tahun makhluk ini selalu membutuhkan korban dalam bentuk seorang lelaki remaja yang berasal dari kampung di luar lingkungan Lut Tawar, saya juga mempercayai ini. Cuma saya belum mampu menangkap subtansi absurditas dengan gaya pikir mitis karena otak sudah terlalu manja dengan hal-hal kasat mata.

“Sesungguhnya tak benar-benar ada perceraian antara mitologi dan sains. Hanya kondisi pemikiran saintifik mutakhirlah yang memberi kita kesanggupan untuk memahami apa yang ada dalam mitos,” demikian kata Claude Lèvi Strauss, antropolog Perancis yang pernah mengguncang dunia intelektual pada tahun 60-an dengan menampik anggapan umum bahwa peradaban Barat itu istimewa. Dan ia berpendapat bahwa kapasitas otak manusia di mana saja sama, bahkan cara berpikir masyarakat yang disebut “primitif” itu sebenarnya tidak serta merta lebih kuno ketimbang masyarakat beradab.

Tapi keberangkatan kami malam itu ke Takengon dengan mengenderai sepeda motor di bawah rinai hujan menerobos gelap perbukitan dan mendobrak cuaca dingin pergunungan serta tak menemukan seorang lain pun manusia di sepanjang jalan, itu bukan mitos.

Begitu juga ketika orang-orang tengah mengagungkan “peradaban” silaturrahmi hari dua lebaran dan kami justru tengah terlelap meleleh liur di balai-balai tepi Lut Tawar yang jauh dari tempat asal kami, itu bukan karena kami tak “beradab” dan antitradisi.

Masalahnya, kami sudah terbiasa dengan gaya lebih respek pada tradisi pribadi. Yaitu bertindak berdasarkan ide yang muncul tiba-tiba sambil bicara. Kendati itu rada-rada “gila” dalam perspektif biasa. (musmarwan abdullah)

Tags: , , , ,

Category: Humaniora

Tentang Penulis: Pengasuh Rubrik Humaniora

Komentar Anda




Sampaikan dengan sopan dan tidak mengandung sara.