Inilah Kami, Para Pengkhianat di Tanah Indatu

Kubu Aneuk Manyak
Hari itu, di bawah langit abad XVI, di istana negeri tanah Indatu beraja Iskandar Muda dan pewaris tahta Meurah Pupok, politisi istana tengah merancang suatu kondisi.
Yang akan menggelincirkan Meurah Pupok terjerat cinta. Tak sesiapa yang menyadari. Itu permainan kelas tinggi. Meurah yang menjadi target, masih teramat lugu dengan kemudaannya.
Pengkondisian itu sukses dengan gemilang. Pupok berzina. Sangat terbukti. Memang dia anak raja, tapi hukum syariat tak boleh ternodai. Pupok dirajam. Mati. Nah, satu-satunya pewaris tahta, lenyap. Yang diuntungkan, bersorak. Para politisi pengkhianat, girang. Harta dari jasa pengkhianatan, bersumpal-sumpal tujuh turunan.
Aceh tak pernah hening dari peristiwa pengkhianatan. Entah kenapalah tanah Indatu ini subur nian dengan perilaku pengecut itu.
Teuku Umar, malam 11 Februari 1899, masih sempat berucap, “Beungoh singoh geutanyoe jep kupi di keudee Meulaboh atawa lon akan syahid.” Sehari sebelumnya, panglima kepercayaannya sudah sepakat tentang sebuah kode dengan Belanda. Dimana, bila nanti malam ada setitik nyala rokok dalam kegelapan, maka arahkanlah ujung karaben ke target-semeter-jarak-ke kiri dari titik api.
Dan malam itu Teuku Umar berjalan kaki dengan pasukannya menuju kota Meulaboh. Dia dan panglimanya berjalan di depan. Sang panglima, yang dalam perjalanan itu terus-menerus merokok, juga terus-menerus menjaga jarak semeter renggang dari sisi kiri Teuku Umar. Tiba di sebuah tikungan, dari sudut kegelapan, sebuah kilatan api membuncah seiring bahana sebuah ledakan, doooor..! Sebutir peluru menembusi wilayah kiri dada Teuku Umar. Sang Johan Pahlawan, terkapar. Trik pengkhianatan sang panglima, di mata Belanda, gemilang tanpa tandingan.
Pada 1901, Cut Nyak Dhien dikhianati orang dekatnya, Pang Laot, hingga berhasil ditangkap Belanda dan dibuang ke Sumedang, Jawa Barat. Sebelumnya, pada Januari 1891, Tgk Chik Di Tiro diracun dengan tuba dalam makanan. Beliau syahid oleh pengkhianatan nurani Kristiani-Eropa sang Belanda melalui peracun durjana yang notabene adalah orang dekat Tgk Chik Di Tiro.
Itu pengkhianatan yang hajatan korbannya adalah pemilik titik sentral arus pusaran dahsyat romantika sejarah negeri Indatu. Sebanyak apa kisah pengkhianatan di tataran orang-orang biasa? Tak bisa diketahui. Namun satu yang sempat terekam sejarah, seperti berikut ini.
Coba perhatikan kawasan berhawa sejuk itu. Itu adalah sebuah lembah di tengah belantara. Terletak antara bukit dan jurang terjal di batas hutan wilayah Kecamatan Geumpang, Pidie dan Tutut, Kecamatan Sungai Mas, Aceh Barat.
Kendati dari zaman ke zaman para warga di wilayah garis perbatasan itu sering melintasi wilayah hutan lebat ini, namun sang lembah nyaris tak bernama. Tapi sebuah peristiwa pengkhianatan yang terjadi di sini pada masa penjajahan Belanda, lembah mungil itu tercatat dalam sejarah.
Seorang saudagar dari Meulaboh, Aceh Barat kawin dengan perempuan Keumala, Pidie. Ketika anak pertama mereka, laki-laki, berumur 4 tahun, sang ibu meninggal. Si saudagar kembali ke Meulaboh dengan memboyong sang anak sekalian semua hartanya dalam bentuk uang logam dan emas.
Perjalanan jalan kaki dari Keumala ke Meulaboh yang menempuh jalur hutan dan pergunungan antara anak dan ayah ini ikut ditemani seorang lelaki warga Keumala sebagai kawan di perjalanan. Sesampai mereka bertiga di kawasan lembah tak bernama itu, sang lelaki kerasukan pikiran jahat. Lalu dia membunuh sang ayah dan anaknya demi merampas semua harta yang dibawa mereka.
Serdadu Belanda dari Meulaboh yang sedang mengejar kaum mujahidin, suatu pagi melintasi lembah tak bernama itu. Di sini mereka menemukan dua mayat. Satu lelaki dewasa, lainnya anak-anak. Saat para serdadu itu tiba di Desa Keunee, Geumpang, mereka melaporkan penemuan tersebut pada kepala gampong setempat.
Peristiwa ini terjadi pada tahun 1935. Dua mayat tersebut dikebumikan di lembah tempat ditemukan lantaran kondisinya sudah tak mungkin dibawapulang ke desa oleh masyarakat Gampong Keunee. Dan berita pun tersebar dari mulut ke mulut. Hanya dalam tempo beberapa hari, pihak kontroler Belanda di Kota Bakti, Pidie, menangkap seorang lelaki warga Keumala.
Setelah peristiwa menghebohkan tersebut, lembah mungil yang sunyi itu diberi nama Kubu Aneuk Manyak. Artinya, kuburan anak kecil. Meski yang meninggal ada dua orang, namun kuburannya hanya ada satu. Masyarakat Keunee, kala itu, bersepakat untuk tidak memisahkan sang anak dan ayahnya di tengah rimba yang hening itu. Maka dikuburkanlah mereka dalam satu liang.
Kubu Aneuk Manyak terletak sekira 30-an kilometer dari pasar ibukota Kecamatan Geumpang, Pidie. Atau sekira 40-an kilometer dari Tutut, Sungai Mas, Aceh Barat.
Ketika tsunami akhir 2004 menghancurkan jalur darat Banda Aceh-Meulaboh, pemerintah membangun jalan tempuh rute Geumpang-Meulaboh secara representatif. Jalan selebar 6 meter yang sepanjang liukannya berada di antara bukit dan jurang ini dilapisi aspal. Maka sejak awal 2005 hingga 2007, untuk mengakses Pantai Barat-Selatan, tempuhan via Beureunuen, Tangse, Geumpang, Kubu Aneuk Manyak, Tutut dan Kota Meulaboh resmi sebagai satu-satunya jalan.
Kini lembah itu tak sunyi lagi. Kuburan anak kecil seliang dengan ayahnya korban pengkhianatan teman seperjalanan bermotif perampokan pada sedasawarsa menjelang akhir masa penjajahan Belanda di Aceh, tak lagi berkelumun dalam lengang rimba. Tiap hari, para musafir dari Pantai Barat-Selatan yang menuju ke Pantai Utara-Timur atau sebaliknya, ramai singgah di sini; untuk menunaikan shalat, rehat, mandi dan makan-makan.
Dan seorang novelis ternama Aceh, yang lima karya novelnya sukses diterbitkan tiga penerbit Jakarta dan beredar di seluruh Indonesia, pada Kamis, 29 Oktober lalu mengirim empat kalimat SMS yang bunyinya, ”Bang, kapan sebenarnya kita ke Kubu Aneuk Manyak? Dalam waktu dekat ini saya akan mulai bikin sketsa untuk novel baru saya. Bicara tentang pengkhianatan,” demikian tulis Arafat Nur dari Lhokseumawe, sang novelis yang enam karya terdahulunya bercerita tentang Aceh masa konflik RI-GAM kurun 1998-2005.
Memang pada pertengahan tahun lalu saya pernah menjanjikan untuk sekali waktu mengajak Arafat Nur ke lembah Kubu Aneuk Manyak yang memang kerap saya singgahi dalam perjalanan saya antara Sigli-Meulaboh. Dan saya menyesal, pada perjalanan beberapa waktu lalu tak sampai menjemput dia di Lhokseumawe. Maka SMS-nya pun saya balas, “Aduh, kawan, bagaimana ini. Soalnya saya baru saja pulang dari sana dua minggu yang lalu.”
“Jeeh..! Kapaleeh..! Janjinya tempohari mau boncengin saya ke Kubu Aneuk Manyak. Tahu-tahu, e, pigi sendiri. Berarti abang sudah berkhianat pada janji.”
Membaca SMS tersebut, walau pengirim tak bermaksud sentimen, saya tak dapat menyembunyikan rasa tusukan di dinding hati. Dan dengan spontan batin saya memekik, “Oh, lagi-lagi pengkhianatan…!”
Demikianlah sekelumit kisah kami warga tanah Indatu. Dulu para pahlawan dikhianati hingga mati. Keluarga raja dikhianati para punggawa. Berikut khianat jelata yang juga berujung pada nyawa. Bahkan hana urosan meski korban masih balita.
Kini pengkhianatan malah sudah merambah ke tataran janji. Meski baru sebatas antara saya dan seorang teman. Esok mungkin giliran pemimpin. Berikutnya, anggota parlemen. Si Nyak mana pernah teken janji untuk tak pernah khianati janji? Tak ada.
Apologinya barangkali begini, “Ah, dulu-dulu juga begitu. Kita adalah warga tanah ‘endatu. Terlahir dari satu rahim ibu, namun dengan beberapa ayah dari berbagai bangsa dan suku. Berkhianat pada janji dengan rakyat? Rakyat nyan kon aneuk Ku kuh! Hana urosan! Hahaha…!”
Oleh Musmarwan Abdullah
Category: Humaniora
















Keluarga Besar Lembaga Budaya SAMAN berduka sedalam-dalamnya atas kepergian Penyair Aceh Asnawi Aida Manggeng (A.A.MANGGENG). Meninggal dunia Sabtu 27 Maret 2010 jam 01:30 di RSU ZA, Banda Aceh, dikebumikan di Manggeng Abdya. Ia telah pergi, tinggal kenangan bagi yang pernah bersua dengannya, tinggal menikmati karyanya bagi generasi. Selamat jalan sobat, kau telah mencatat diri di bumi ini, karya-karyamu kan abadi.
Dan, sejarah terus berulang hari dan tahun…. Kecuali kita memiliki tekad yang kuat untuk merubah itu semua. Pengkhianatan terjadi, dari mulai lingkup terkecil -janji yang tak kita tepati terhadap diri kita sendiri- sampai lingkup terbesar, -janji penguasa terhadap rakyat yang memilihnya-. Itulah Nanggroe kita. Berkhianat atau dikhianati. Menipu atau ditipu…