Mencari Akar Epistimologis Acehnologi
Hadiri Seminar “Mencari Akar Epistimologis Acehnologi”
Waktu : Rabu, 2 Juni 2010
Pukul : 09.00 – 12.00
Tempat : Gedung ACC Sultan Selim II, Jl. STA Banda Aceh
Term of Refference
Seminar Sehari Mencari Akar-akar Acehnologi
Tujuan seminar yang dimaksudkan di sini adalah untuk mencari adakah akar-akar epistimologi Acehnologi itu? Istilah ini sempat muncul dalam karya-karya Snouck Hurgronje yang akar pengetahuannya saat ini adalah antropologi dan etnografi. Acehnologi ini mengikuti model pengetahuan etnografi Chinese studies, Persian studies, atau history of Tamil, namun dalam hal ini Acehnologi menjadi kajian yang lebih luas dan kompleks.
Acehnologi yang akan dibahas kali ini diharapkan menjadi kajian inter-disciplinary, yaitu kajian ini dibutuhkan untuk membangun pengetahuan bagi kepentingan kemasyarakatan Aceh dan juga bagi dunia humanioranya. Jika terobosan ini berhasil dipikirkan bersama konstruksi epistimologisnya, maka akan menjadikan Aceh menjadi subjek yang berbicara atas dirinya sendiri dan tidak hanya menjadi subaltern – meminjam istilah Gatatry Spivak – yang dipercakapkan secara kolonial dan borjuis, dan tidak secara demokratis.
Permasalahan yang harus dipikirkan bersama adalah sejauh mana kompetensi Acehnologi akan berbicara banyak bagi pembangunan Aceh dan sejarahnya. Ruang mana yang sah dimasukkan sebagai cabang pengetahuan, dan mana yang akan dieksklusikan? Sehingga kepentingan perbincangan ini bisa menjadi school of thought bagi Aceh, syukur-syukur bisa menjadi sibalus, jurusan, atau bahkan fakultas baru dalam cabang pendidikan di universitas Aceh.
Seminar : 2 Juni 2010
Pukul : 09.00 – 12.00
Tempat : Gedung ACC Sultan II Selim Jl. STA
List Peserta | Undangan :
1. Aryos Nivada.
2. T. Zulkhairi.
3. Edi Miswar.
4. Fairus (Ketua KomunikasiPenyiaran Islam).
5. M. Adli Abdullah.
6. Sulaiman Tripa (Fak. Hukum Unsyiah).
7. Yani (Harian Aceh).
8. Wirduna (Wartawan Pers Unsyiah).
9. Murdani (Harian Aceh).
10. Rahmat Sanjaya (Wartawan Serambi Mekkah).
11. Dian (Rakyat Aceh).
12. D. Kemalawati (Lapena).
13. Fauzan Santa (Dokarim).
14. Fuad Mardatillah (IAIN Ar-Raniry).
15. Syafuddin Banta Syam (Unsyiah).
16. Novendra Dj (Prodeelat).
17. Fajran Zain (Aceh Institute).
18. Nurdin F. Jos (Serambi Indonesia).
19. Barlian AW (Serambi Indonesia).
20. Jabar Sabil (Bandar Publishing).
21. R.H Fitriadi (Novelis).
22. Sabela Gayo (Ketua Pemuda Gayo Senat).
23. Ketua IPAU.
24. Fuadli (Serambi Indonesia).
25. Riza Rahmi (Buletin Baiturrahman).
26. Rita JS (Lensa Unmuha).
27. Narsul Zaman (Unmuha).
28. Oki Tiba (SPD).
29. Rizki Affiat (Lina).
30. Rahmat (CAJP).
31. Zulfadli Kawom (Lembaga Budaya Saman).
32. Ketua Yayasan Sambinoe.
33. Doel CP Alisah (Alisiansi Sastrawan Aceh -ASA).
34. Iskandar Norman (Harian Aceh).
35. H Harun Keuchiek Leumik (Analisa).
36. Saniah (Serambi Indonesia).
37. Munawardi Ismail (Waspada).
38. Ali Raban (Metro TV).
39. Mursal (Serambi Indonesia).
40. Faisal (Atjeh TV).
41. Ketua LSM Aceh.
42. Syafruddin (Ketua BEM FKIP Unsyiah).
43. Ketua BEMA IAIN.
44. Ketua Presma Unsyiah.
45. World Bank Banda Aceh.
46. USAID Banda Aceh.
Catatan: Seminar ini dihadiri peserta khusus dengan surat undangan dan gratis.
Pelaksana: Center for Acheh Justice and Peace (CAJP) dan Lembaga Budaya SAMAN
Informasi lebih lengkap, hubungi: Jauhari Samalanga, Herman RN.
Category: Iklan
















Keluarga Besar Lembaga Budaya SAMAN berduka sedalam-dalamnya atas kepergian Penyair Aceh Asnawi Aida Manggeng (A.A.MANGGENG). Meninggal dunia Sabtu 27 Maret 2010 jam 01:30 di RSU ZA, Banda Aceh, dikebumikan di Manggeng Abdya. Ia telah pergi, tinggal kenangan bagi yang pernah bersua dengannya, tinggal menikmati karyanya bagi generasi. Selamat jalan sobat, kau telah mencatat diri di bumi ini, karya-karyamu kan abadi.