<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SAMAN Cultural Magazine</title>
	<atom:link href="http://samanculturalmagazine.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://samanculturalmagazine.com</link>
	<description>Merdeka Menulis Jernih Berpikir</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Aug 2010 22:57:51 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Helima</title>
		<link>http://samanculturalmagazine.com/helima/</link>
		<comments>http://samanculturalmagazine.com/helima/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Aug 2010 13:46:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thayeb Loh Angen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Elvy Sukaesih]]></category>
		<category><![CDATA[Helima]]></category>
		<category><![CDATA[Is Haryanto]]></category>
		<category><![CDATA[Qaish dan Laila]]></category>
		<category><![CDATA[Tetty Kadi]]></category>
		<category><![CDATA[Teuntra Atom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samanculturalmagazine.com/?p=829</guid>
		<description><![CDATA[“Izinkanlah aku walau sedetik lamanya untuk berjumpa sang kekasih.” Begitulah dinyanyikan Si Ratu Dangdut Elvi Sukaesih.
Helima, begitu kudengar tentangmu kemarin, ingatanku kembali pada masa kita saling mendambakan kebersamaan sepanjang hayat. Memang, itu terjadi kemarin, saat kau dan aku masih muda remaja. Kini kau dan aku masih muda remaja juga, walau hanya dalam perasaan cinta kita [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Izinkanlah aku walau sedetik lamanya untuk berjumpa sang kekasih.” Begitulah dinyanyikan Si Ratu Dangdut Elvi Sukaesih.</p>
<p>Helima, begitu kudengar tentangmu kemarin, ingatanku kembali pada masa kita saling mendambakan kebersamaan sepanjang hayat. Memang, itu terjadi kemarin, saat kau dan aku masih muda remaja. Kini kau dan aku masih muda remaja juga, walau hanya dalam perasaan cinta kita itu.</p>
<p>Cinta tidak pernah tua, seperti ditulis dalam novel &#8216;Teuntra Atom,&#8217; “Ketika cinta menguasai jiwa, manusia merasa muda, cinta adalah musuh sang maut.”</p>
<p>Kenangan dan perasaan kita seperti kue-kue dalam kebudayaan kampung kita, mungkin kau pun sering membuatnya, kue-kue yang manis dan lezat semacam meuseukat. Ya, kenangan dan perasaan kita itu semanis manis dan selezat meuseukat. Namun kerinduanku padamu seperti cabe dan sambal yang disukai orang kampung kita juga, yang kalau kerinduan begitu mendera, maka lambung perasaanku perih.</p>
<p>Begitu kudengar suaramu, kemarin, kutahu itu suara yang dulu merdu dalam kehidupanku, namun kini kemerduan itu memanggilku untuk melihat rupamu, aku tidak tahu bagaimana rupamu, masihkah secantik dulu, aku yakin kau masih secantik dan sebaik dulu, seperti aku yakin bahwa keinginanku yang terbesar kini hanya melihat dirimu, hanya untuk melihat, karena selebihnya itu kini sudah terlarang.</p>
<p>Cinta terlarang, itu sering kita dengar dari penduduk kampung kita namun tidak ada siapapun yang berhak melarang siapa saja untuk mencintai siapa yang mau ia cintai. Tepatnya, tidak pernah ada cinta terlarang, namun karena kita orang-orang bermoral, maka kita menghargai perasaan orang lain sehingga cinta kita kini bisa saja disebut terlarang.</p>
<p>Kita mengakui keterlarangan cinta yang santun itu demi diri sendiri, atau demi anak-anak kita yang terlahir dari cinta yang lain, cinta yang kita terima karena kau dan aku dulu dipisahkan oleh jarak. Jika memang cinta kita kini sangat terlarang, aku bisa ketakutan seperti melewati kuburan di tengah malam sendirian dalam gerimis, takut. Tapi ketakutanku kini adalah tidak sempat melihatmnu lagi.</p>
<p>Keterpisahan kau dan aku dulu adalah keterpisahan fisik, namun seperti kurasakan kini, aku yakin kau pun merasakan ketidakterpisahan hati kita. Ya, itu semua cukup dalam hati kita masing-masing, namun perlu kautahu bahwa keinginanku yang terbesar kini hanyalah melihat dirimu seperti kulihat kau dulu.</p>
<p>Keinginanku melihatmu sama seperti keinginan para murid kanak-kanak melihat gurunya tecintanya; bedanya, kanak-kanak itu ingin melihat guru tercintanya setiap hari, sementara aku ingin melihatmu sekali saja agar semua penasaran dan kerinduan yang kupendam bertahun ini terobati; sebenarnya aku ingin melihatmu setiap hari, namun itu sudah terlarang, jadi izinkan aku melihatmu sekali saja, Helima.</p>
<p>Dalam keseharianku, ingatan bersamamu dulu dan rindu melihatmu selalu berjalan seiiring. Namun, kerinduanku kini tidaklah sama seperti kerinduanku dulu. Tentang kerinduanku kini mungkin serupa lagu Yosie Lucky yang berjudul Kerinduan.</p>
<p>Yosie Lucky menyanyikan, “Kerinduan bersahaja yang ada di dalam dada, adalah kerinduan  sebatas teman biasa.”</p>
<p>Keadaan perasaanku kini pun serupa lagu &#8216;Sepanjang Jalan Kenangan” ciptaan Almarhum Is Haryanto yang dinyanyikan oleh biduanita asal Bandung Tetty Kadi. Dalam lagu tersebut diucapkan, “Sengaja aku datang ke kotamu, lama nian tiada bertemu. Ingin diriku mengulang kembali, ….”</p>
<p>Aku memang sengaja datang ke kotamu-berbeda dari lagu “Sepanjang Jalan Kenangan” karena aku sengaja ke kotamu-hanya untuk melihatmu, namun kesempatan itu belum kauberikan untukku yang mengharap ini. Entah sampai kapan pengharapan ini harus kuusung sendiri.</p>
<p>Aku tidak bisa mengatakan semua kenangan kita di sini, namun pastinya kau masih ingat semua itu sepertiku yang tak pernah bisa melupakannya. Kenangan tetaplah kenangan dan itu telah berlalu dalam waktu dan abadi dalam rasa kita. Kau dan aku tahu, dalam hidup ada impian terbesar, dan sekali lagi kukatakan bahwa impianku yang terbesar kini adalah ingin melihatmu.</p>
<p>Helima, nasib kita memang tidak seburuk Qaish dan Laila karna kau dan aku kini hidup dalam cinta yang lain, namun nasib cinta kita tidak juga seperti Adam dan Hawa. Apapun yang terjadi, kau dan aku kini masih ada dan tidak bersama, dan aku bisa melihatmu jika kauinzinkan itu, maka izinkanlah aku melihatmu walau sekali saja, Helima. Permintaanku ini tidaklah terlarang. Kautahu, &#8216;kan, permintaanku ini manusiawi untuk orang yang saling mencintai dan dipisahkan jarak dan norma.</p>
<p>Helima, izinkan aku melihatmu ketika aku masih bisa, ketika kau dan aku masih ada di perantauan dunia ini, jika kau atau aku telah kembali ke negeri keabadian, maka pertemuan sederhana untuk melihatmu yang kuminta, tidaklah lagi bisa terwujud.</p>
<p>Helima, aku tidak minta kau dan aku bisa mengulang waktu karena itu tidak pernah mungkin, aku hanya meminta dirimu mengizinkanku melihatmu sebelum kau dan aku atau salah satu dari kita dipanggil Tuhan ke haribaan negeri keabadian.</p>
<p>Aku tidak mampu lagi bicara lebih banyak padamu di sini, karena aku terus merindukan suasana untuk bisa melihatmu sebelum semuanya terlambat, sebelum dari dunia fana ini kita minggat, dan jangan membiarkan diriku terus mengharap. Helima, selagi kita di dunia ini dan masih sempat, izinkan wajahmu kulihat. []</p>
<p>Cerpen ini pernah di muat HARIAN ACEH, Minggu, 29 Agustus 2010.</p>
<p>Oleh Thayeb Loh Angen, Pemimpin Redaksi Majalah SAMAN CULTURAL Magazine, Terbit Cetakan Edisi 1 September 2010.</p>


<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samanculturalmagazine.com/helima/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Puncak</title>
		<link>http://samanculturalmagazine.com/di-puncak/</link>
		<comments>http://samanculturalmagazine.com/di-puncak/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Aug 2010 13:43:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thayeb Loh Angen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Iklan]]></category>
		<category><![CDATA[Machiavelli]]></category>
		<category><![CDATA[Thayeb Loh Angen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samanculturalmagazine.com/?p=826</guid>
		<description><![CDATA[DI puncak, sayangku. Di puncak itu puncak ini puncak sakti maharaja. Di puncak, sayangku. Di puncak sakti puncak dewi puncak keramat puncak tempat bersemedi para dewa.
Di puncak, tempatnya memang luas, namun tidak terlalu luas, sehingga tidak cukup untuk duduk bersantai. Begitulah kata Machiavelli, wahai sayangku. Di dunia yang turbulen ini, sayangku, tidak ada satupun yang [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>DI puncak, sayangku. Di puncak itu puncak ini puncak sakti maharaja. Di puncak, sayangku. Di puncak sakti puncak dewi puncak keramat puncak tempat bersemedi para dewa.</p>
<p>Di puncak, tempatnya memang luas, namun tidak terlalu luas, sehingga tidak cukup untuk duduk bersantai. Begitulah kata Machiavelli, wahai sayangku. Di dunia yang turbulen ini, sayangku, tidak ada satupun yang dapat diprediksi karena peristiwa dikendalikan oleh orang-orang yang berpikir dan berani melaksanakan hasil pemikirannya. Dan tersingkirlah para pecundang.</p>
<p>Di puncak, sayangku. Dan bila kau ingin tiba di puncak maka dakilah, kala kau tiba di sana, kau kan tahu bahwa puncak tidaklah setinggi yang disangka orang-orang di lembah itu, karena setelah kau tiba di sana, maka puncak itu berada di bawah telapak kakimu.</p>
<p>Memang, perjalanan ke puncak itu tidaklah senyaman di lembah, kau harus menelusuri tebing terjal dan tikungan, menghadapi badai dan kegelapan, namun puncak memang berada setelah kaulewati itu, wahai sayangku.</p>
<p>Di puncak, sayangku, setelah kau tiba di sana, kau harus turun karena orang-orang itu berada di bawah, karena kau tidak mungkin hidup dalam kesendirian. Maka jangan terlalu angkuh saat kau berada di puncak, wahai sayangku, karena puncak itu bisa didaki siapa saja.</p>
<p>Di puncak, sayangku, jika kau tidak menjaga gunung yang kautapaki puncaknya maka gunung tersebut bisa runtuh atau meletus merapinya sehingga jika datang penyelamat, maka kau tersingkir ke jurang dan penyelamat itulah yang menjadi raja di puncak, sebagai raja sejati karena ia telah menyelamatkan gunung yang ia tapaki, wahai sayangku.</p>
<p>Kautahu, sayangku, kata guru kita, orang tidak mungkin sampai di puncak sambil jalan-jalan di perkampungan, namun harus dengan persiapan mapan. Seperti kata Penakluk dari Timur, ”Aku datang ke sini dengan persiapan sempurna.” Penakluk dari timur datang dengan persiapan sempurna, ia mengendalikan arus dan memperkuda waktu, dan ia ditakdirkan sebagai pemenang.</p>
<p>Di puncak, sayangku. Puncak itu ini sakti maharaja sakti dewi keramat tempat bersemedi para dewa. Maka bertasbihlah pada maharaha semesta penjaga gunung penjaga lembah penjaga kebun lada kita.</p>
<p>Di puncak, sayangku, anginnya terlalu keras, dan yang sanggup beratahan hanya yang sering menghadapai badai, namun cuma petualang yang terbiasa dengan badai, dan puncak adalah mainan mereka.</p>
<p>Maka tersingkirlah orang-orang picik yang mengira dunia cuma yang bisa ia lihat. Begitu puncak berguncang, maka pencundang terlempar ke jurang, dan puncak hanya milik para petualang.[]</p>
<p>Cang Panah HARIAN ACEH, MINGGU, 29 Agustus 2010 | Thayeb Loh Angen</p>


<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samanculturalmagazine.com/di-puncak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keagungan Warung Kopi dalam Budaya Aceh</title>
		<link>http://samanculturalmagazine.com/keagungan-warung-kopi-dalam-budaya-aceh/</link>
		<comments>http://samanculturalmagazine.com/keagungan-warung-kopi-dalam-budaya-aceh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Aug 2010 21:00:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thayeb Loh Angen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[26 Desember 2004]]></category>
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[Banda Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[Etnis Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[Kerajaan Aceh Darussalam]]></category>
		<category><![CDATA[pascasmong]]></category>
		<category><![CDATA[protokoler]]></category>
		<category><![CDATA[warung kopi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samanculturalmagazine.com/?p=812</guid>
		<description><![CDATA[ACEH adalah propinsi terbarat dalam negara Republik Indonesia, berpenduduk sekitar empat juta jiwa lebih dengan etnis Aceh penduduk terbanyaknya. Jika ke propinsi bekas pusat negara terbesar di Asia Tenggara bernama Kerajaan Aceh Darussalam ini, kita temukan warung kopi berbaris sepanjang jalan seanteronya, dari jalan raya negara sampai jalan gampong dan jurung.
Keadaan bangunan dan fasilitas warung [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://samanculturalmagazine.com/terima-kasih-dalam-budaya-aceh/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Terima Kasih dalam Budaya Aceh'>Terima Kasih dalam Budaya Aceh</a> <small> HINGGA saat ini, kata “terima kasih” sebagai ungkapan kebudayaan...</small></li>
<li><a href='http://samanculturalmagazine.com/etika-kepemimpinan-dalam-agama-dan-adat-aceh/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Etika Kepemimpinan dalam Agama dan Adat Aceh'>Etika Kepemimpinan dalam Agama dan Adat Aceh</a> <small>“Meuseubab Asee Binasa Raja” Sepenggal hadih maja (pepatah atau kata...</small></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>ACEH</strong> adalah propinsi terbarat dalam negara Republik Indonesia, berpenduduk sekitar empat juta jiwa lebih dengan etnis Aceh penduduk terbanyaknya. Jika ke propinsi bekas pusat negara terbesar di Asia Tenggara bernama Kerajaan Aceh Darussalam ini, kita temukan warung kopi berbaris sepanjang jalan seanteronya, dari jalan raya negara sampai jalan gampong dan jurung.</p>
<p>Keadaan bangunan dan fasilitas warung kopi di Aceh tergantung gampong tempat ia berada. Bila warung kopi berada di gampong yang berduduknya kebanyakan orang berpenghasilan sederhana, maka warung kopi itu pun sederhana, bila keadaan penduduk gampong di sekitar warung kopi berpenghasilan tinggi, maka warung kopi pun eksklusif sebanding penduduk di lingkungannya. Mari ke warung kopi – warung kopi di Aceh, lihat, temukan serta dengar ada apa di sana.</p>
<p>Penentuan siapa yang dipilih dari calon anggota legislatif, calon geuchik dan wakilnya, calon bupati dan wakilnya, calon walikota dan wakilnya, bahkan calon gubernur dan wakilnya atau calon presiden dan wakilnya dicetuskan dan ditentukan di warung kopi baru setelahnya secara protokoler diumumkan dalam pertemuan di meunasah untuk tingkat gampong atau di gedung pertemuan yang lebih eksklusif di tingkat yang lebih tinggi.</p>
<p>Penentuan arah sejarah dan peradaban di Aceh dimulai di warung kopi karena warung kopi adalah tempat paling banyak dikunjungi. Warung kopi menjadi tempat ternyaman untuk berbagi cerita dan ide atau tempat untuk merumuskan dan menyelesaikan masalah. Makanya di setiap kampung di Aceh ada bebarapa, bahkan ada puluhan warung kopi.</p>
<p>Dalam budaya kehidupan penduduk Aceh, berwarung kopi menjadi sangat penting, sehingga jika ada yang mengklaim bahwa penduduk Aceh yang menunjungi warung kopi adalah orang malas, maka itu pernyataan pengacau yang tidak mengerti budaya Aceh karena pernyataan seperti itu bertentangan dengan tujuan orang Aceh berwarung kopi.</p>
<p>Warung kopi adalah tempat yang paling ramai dikunjungi para lelaki di Aceh, namun pasca bencana laut smong pada 26 Desember 2004 menghantam pesisir propinsi terbarat Republik Indonesia ini, budaya berwarung kopi berubah karena para pekerja lelaki dan perempuan penduduk negara luar yang ke Aceh ikut minum dan berleha-leha di warung kopi, yang mereka anggap seperti café di negara mereka.</p>
<p>Kebiasaan pekerja luar negeri ini turut mengubah gaya berwarung kopi di Aceh dan akhirnya ditiru orang-orang Aceh yang bekerja bersama pekerja dari luar negeri tersebut. Kebiasaan itu pun terus dilakukan oleh kebanyakan penduduk Aceh sehingga warung kopi, khususnya di Banda Aceh dan di beberapa tempat lain di Aceh kini dikunjungi lelaki dan perempuan.</p>
<p>Kini, warung kopi di Aceh, dikunjungi lelaki dan perempuan, hampir sama banyak. Para remaja yang berstatus pelajar dan mahasiswa pun kini menjadikan warung kopi sebagai tempat singgah, karena warung kopi tidak lagi dianggap tempat santainya kaum bapak-bapak di perkampungan.</p>
<p>Bahkan kini, etnis yang datang sejak masa silam seperti etnis Tionghoa dan tidak membaur diri dengan penduduk asli sebagaimana bangsa lain, pun ikut meramaikan duduk dan minum di warung kopi. Ada apa dengan warung kopi di Aceh?</p>
<p>Di era pascasmong tersebut, perubahan dekorasi warung  kopi yang dari kumuh menjadi ekslusif seperti café-café di negara luar mengubah budaya pengunjung warung kopi di Aceh. Perubahan dekorasi dan fasilitas di warung kopi merupakan kebutuhan mutlak bagi pemilik warung untuk teurus mempertahankan pelanggan dan menambah pengunjung.</p>
<p>Sepanjang sejarah, di warung kopi di Aceh selalu disediakan media informasi. Di masa sebelum media cetak ada, warung kopi dijadikan sebagai tempat mengakses semua informasi dari kampungnya, dari kampung tetangga, dari kota, bahkan dari luar negeri kalau ada. Budaya warung kopi sebagai tempat terpusat informasi lisan masih berlangsung sampai kini, walau pembacaan hikayat dari warung kopi ke warung kopi tidak ada lagi sampai tahun 2010, entah ke depan.</p>
<p>Di masa media cetak telah ada, warung kopi menyediakan surat kabat harian atau mingguan dan bulanan yang bisa didapatkan pemilik warung kopi tersebut. Ini dilakukan untuk menarik minat pengunjung karena orang butuh informasi dan minum kopi sambil menunggu giliran baca kabar dari media cetak, atau bagi yang tidak membaca menunggu diceritakan oleh yang membacanya. Setelah semua informasi, mulai dari kampung sampai dari luar negeri diperbincangkan, maka penduduk menuju kegiatan kesehariannya, seperti ke sawah, ke ladang, ke kantor dan  sebagainya.</p>
<p>Saat media elektronik ada, seperti radio dan televisi, selain penduduk yang tergolong paling berduit di kampung itu, warung kopi adalah tempat pertama yang menyediakan barang teknologi informasi tersebut. Begitu seterusnya sampai kini, saat budaya memakai internet menjadi kebiasaan sebagian besar pengunjung warung kopi, maka hampir semua warung kopi, terutama di Banda Aceh sebagai ibukota provinsi, menyediakan fasilitas mengakses internet dengan media akses seperti handphone dan laptop dibawa sendiri oleh pengunjung.</p>
<p>Disediakannya fasilitas mengakses internet di warung kopi, selain di Aceh, tidak ada di kota lain atau di luar negeri, ini terjadi karena warung kopi adalah tempat teristimewa bagi penduduk Aceh, bukan tidak seperti bagi penduduk di tempat lain. Bagi pemilik warung kopi, apapaun dilakukan untuk membuat warung kopinya banyak dikunjungi, penambahan uang keluar lebih baik untuk meraup uang lebih banyak.</p>
<p>Namun ini ada sisi tidak baiknya, misalnya, orang cuma minum setengah gelas atau segelas kopi tapi duduk seharian di warung itu tanpa menghabiskan kopinya karena seperti di zaman radio, memesan segelas kopi menjadi alas an untuk bisa duduk seharian di warung kopi agar bisa mendengar siaran radio.</p>
<p>Di zaman televisi telah ramai digunakan, memesan segelas kopi adalah alasan untuk bisa seharian duduk di warung kopi agar bisa menonton siaran televisi dari pemancar dalam dan luar negeri. Sebagian kecil warung kopi tidak menyediakan media informasi seperti televisi agar selain minum dan makan makanan ringan atau sesekali makanan berat, pengunjung tidak berlama di warung kopinya untuk santai-santai.</p>
<p>Pemilik warung kopi yang sengaja tidak memasang media informasi di warung kopinya berpendapat bahwa  media informasi di warung kopi membuat ia kehilangan kesempatan untuk mendapatkan masukan dari pelanggan yang tidak jadi singgah di warung kopinya karena masih ada pelanggan yang lebih dulu datang yang telah berjam-jam memesan minum tapi belum selesai menggunakan tempat duduknya.</p>
<p>Di zaman internet, yang membingungkan pemilik warung kopi penyediakan fasilitas mengakses internet gratis adalah pengunjung yang membeli segelas kopi untuk bisa seharian di warung kopi itu agar bisa menggunakan fasilitas internet gratis. Tidak dari semua sisi menguntungkan memang, biaya listrik dan sewa fasilitas mengakses internet kadang jauh lebih  banyak dari pada laba kopi dan makanan ringan atau berat yang dibeli pengunjung yang datang membeli segelas kopi untuk bisa menggunakan fasilitas mengakses internet gratis.</p>
<p>Sepanjang budaya Aceh, warung kopi adalah tempat mencetuskan hal-hal kecil dan besar, dan sekaligus tempat mengambil keputusan yang disahkan dalam forum resmi seperti di meunasah atau kantor. Warung kopi di Aceh telah menjadi tempat terpenting dalam menentukan perubahan suasana politik, perekonomian, dan semacamnya. Maka karena keberadaan warung kopi begitu agung di Aceh, maka julukan ‘Negeri Warung Kopi’ untuk Aceh memang pantas.[]</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://samanculturalmagazine.com/terima-kasih-dalam-budaya-aceh/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Terima Kasih dalam Budaya Aceh'>Terima Kasih dalam Budaya Aceh</a> <small> HINGGA saat ini, kata “terima kasih” sebagai ungkapan kebudayaan...</small></li>
<li><a href='http://samanculturalmagazine.com/etika-kepemimpinan-dalam-agama-dan-adat-aceh/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Etika Kepemimpinan dalam Agama dan Adat Aceh'>Etika Kepemimpinan dalam Agama dan Adat Aceh</a> <small>“Meuseubab Asee Binasa Raja” Sepenggal hadih maja (pepatah atau kata...</small></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samanculturalmagazine.com/keagungan-warung-kopi-dalam-budaya-aceh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sihir Saman</title>
		<link>http://samanculturalmagazine.com/sihir-saman/</link>
		<comments>http://samanculturalmagazine.com/sihir-saman/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Aug 2010 11:19:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thayeb Loh Angen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rupa]]></category>
		<category><![CDATA[Aceh Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Aula Meurah Silu]]></category>
		<category><![CDATA[Ayi Jufridar]]></category>
		<category><![CDATA[Bira Agustin]]></category>
		<category><![CDATA[improvisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Saman]]></category>
		<category><![CDATA[Sanggar Seni Cut Meutia]]></category>
		<category><![CDATA[Sanggar Tari Ratu Malikah Nur Ilah]]></category>
		<category><![CDATA[Tari Saman]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Malikussaleh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samanculturalmagazine.com/?p=807</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ayi Jufridar
UDARA panas segera menyergap begitu memasuki Aula Meurah Silu Universitas  Malikussaleh Lhokseumawe, Aceh, di sebuah malam pada akhir Juli lalu. Sejumlahmesin pendingin udara yang menempel di beberapa sudut, diam tak mengembuskan apa pun. Entah sengaja dimatikan untuk menghemat energi, atau daya yang ada memang tidak mampu menerangi ruang aula sekaligus mendinginkannya. Dalam keadaan [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Ayi Jufridar</strong></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img src="http://samanculturalmagazine.com/wp-content/uploads/2010/08/Saman_01@Ayi-Jufridar-300x194.jpg" alt="" width="300" height="194" /><p class="wp-caption-text">Tari Saman</p></div>
<p>UDARA panas segera menyergap begitu memasuki Aula Meurah Silu Universitas  Malikussaleh Lhokseumawe, Aceh, di sebuah malam pada akhir Juli lalu. Sejumlahmesin pendingin udara yang menempel di beberapa sudut, diam tak mengembuskan apa pun. Entah sengaja dimatikan untuk menghemat energi, atau daya yang ada memang tidak mampu menerangi ruang aula sekaligus mendinginkannya. Dalam keadaan seperti itu, duduk diam saja sudah membuat tubuh bermandikan keringat, apalagi berjingkrat-jingkrak di atas panggung yang beralaskan kayu.</p>
<p>Namun itulah yang dilakukan delapan gadis remaja berjilbab di atas panggung beralaskan kayu. Udara panas di dalam aula yang terletak di lantai tiga tersebut tidak menghalangi gerak mereka. Gadis remaja tersebut duduk bersila dalam satu baris memanjang, tetapi tidak diam. Mereka  menggerakkan tangan, bahu, dan kepala secara berirama. Pada mulanya dengan gerakan lembut mengikuti syair yang dibacakan salah seorang gadis di tengah barisan. Syair itu berisi puja puji kepadaAllah, penghormatan kepada hadirin (tidak ada seorang pun hadirin), dan ajakan berbuat kebajikan. Syair itu sesungguhnya pendek, tetapi disampaikan dengan irama tertentu dan diulang-ulang sehingga sebaris syair saja bisa menghabiskan waktu sampai beberapa menit.</p>
<p>Seiring dengan semakin cepatnya syair mengalir, gerakan tangan gadis remaja itu semakin cepat. Mereka meliuk ke kiri dan kanan. Saling bertepuk tangan dengan teman di samping. Menepuk dada kiri dan kanan bagian atas. Menepuk paha. Menepuk lantai kayu (mungkin karena alasan itulah panggungnya dibuat berlantai kayu), serta menggelengkan kepala ke kiri, kanan, depan, dan belakang.</p>
<p>Itulah saman.</p>
<p>“Saman memang artinya delapan. Biasanya dibawakan delapan penari. Tetapi ada juga yang lebih. Yang pasti, harus genap. Kalau pun ada yang ganjil, seorang di antaranya adalah pembaca syair,” ungkap Bira Agustin (24). Lelaki berkulit putih itu adalah salah seorang penari Saman yang malam itu menjadi pelatih tari bagi mahasiswa Universitas Malikussaleh Lhokseumawe untuk menghadapi sebuah even kesenian dan budaya.</p>
<p>Gerakan-gerakan dalam tari saman, jelas Bira, juga menyampaikan pesan keagamaan. Dalam gerakan ritmis tersebut mengandung beberapa gerakan wajib dan adajuga yang sudah dimodifikasikan dengan gerakan modern. Dalam perkembangannya, saman sudah diimprovisasi sedemikian rupa sehingga berbeda dengan gerakan saman dasar yang diperkenalkan di Gayo, Aceh Tengah.</p>
<p>Bira sudah mempelajari saman sejak 2001 ketika menjadi anggota Sanggar Seni Cut Meutia di Pendopo Bupati Aceh Utara. Adalah M Rizal yang mengenalkannya kepada tari saman dan sejumlah jenis tari lainnya. Bukan hanya Aceh, tetapi juga tari dari daerah lain di Indonesia. Dalam beberapa kunjungan budaya ke berbagai kota di Indonesia dan luar negeri, Bira merasakan kemampuannya menari di luar sama, sangat bermanfaat. Di tangan M Rizal telah lahir puluhan – bahkan mungkin ratusan – seniman tari di Aceh bagian barat dan timur. Sayangnya, ketika didatangi Pendopo Bupati Aceh Utara di Lhokseumawe, diperoleh kabar bahwa M Rizal kini sudah bermukim di Banda Aceh seiring kian redupnya dukungan pemerintah Kabupaten Aceh Utara terhadap perkembangan seni tari.</p>
<p>Bira yang kini sedang menyelesaikan skripsi di Fakultas Tarbiyah Jurusan Bahasa Inggris Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Malikussaleh, dipercayakan melatih pada Sanggar Tari Ratu Malikah Nur Ilah yang beranggotakan 15 penari dan ddelapan musisi. Ada even atau tidak, mereka selalu latihan setiap hari, kecuali Sabtu dan Minggu atau para mahasiswa sedang mengikuti ujian di kampus. Karena itu, bukan hanya saman yang mereka pelajari, melainkan sejumlah tari Aceh lainnya seperti tari poh kipah, liko pulo, ranup lam puan, dan sejumlah tari luar Aceh lainnya seperti serampang dua belas. “Tapi, kalau tampil di luar, tari saman dan seudati memang lebih mendapat apresiasi penonton. Mungkin karena kedua tari itu yang paling dikenal,” ujar Bira.</p>
<p>***</p>
<p>Mungkin bukan hanya itu alasannya. Saman juga menjadi tontonan yang mengangumkan karena gerakan kompak dan cepat sehingga terkesan magis. Perpaduan suara tepukan tangan, dada, paha, juga tepukan di panggung serta liukan tubuh itulah yang menyihir para penonton sehingga melahirkan tepukan tangan yang panjang seusai pementasan. Penonton seolah tidak peduli pada syair yang disampaikan dalam bahasa Gayo yang tidak mereka pahami.</p>
<p>Itulah yang diakui Rahmad YD, seorang fotografer di Lhokseumawe ketika pertama kali menyaksikan tari saman yang dibawakan 11 penari dari Kabupaten Gayo Lues, Aceh, dalam Peyasan Pase, sebuah evem budaya yang secara rutin pernah digelar di Aceh Utara. Rahmad mengaku kagum dengan gerakan tari dan suara serta tidak peduli dengan arti syair karena memang tidak paham bahasa Gayo.</p>
<p>Tari saman yang selalu menjadi tontonan favorit di Peyasan Pase tersebut, dibawakan 11 penari saman yang berpakaian khas Gayo yang dominan warna merah bata dan hitam. Motif kain yang mereka gunakan mirip dengan ulos Batak di Sumatera Utara dan Tana Toraja di Sulawesi Selatan. Penari saman tersebut berasal dari Sanggar Rempelin Gayo dari Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh.</p>
<p>Menurut Samsul Bahri, pimpinan Sanggar Rempelih Gayo tatkala itu, menari saman sudah seperti makanan sehari-hari bagi anak asuhnya. Menari bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja, sehingga tidak lagi menjadi beban.  Tak heran bila Rempelis Gayo berhasil menjadi grup tari berpenampilan terbaik pada 2005, 2006, dan 2007 di ajang Gebyar Wisata di Jakarta.</p>
<p>Saman bagi masyarakat Gayo merupakan kesenian sehari-hari. Biasanya pertandingan saman digelar antarkampung dan bisa berlangsung sampai dua hari dua malam. “Istirahatnya hanya untuk salat dan makan saja,” tambah Alasmyah Ariga (24), pimpinan Sanggar Seni Seulawet IAIN Ar-Raniry Banda Aceh.</p>
<p>Saman memang tari tradisional masyarakat Gayo (Aceh Tengah) yang sudah dikenal sejak Abad XIV. Karena itu, syair yang dibawa mengiringi tari – juga istilah dalam saman – banyak dalam bahasa Gayo.         Kabarnya tari ini diciptakan dan dikembangkan seorang tokoh Agama Islam bernama Syekh Saman. Tari saman adalah perkembangan dari seni tari yang asalnya diberi nama “Pok pok Ane” yaitu nyanyian sajak dengan iringan tepukan tangan, tepukan dada, dan tepukan paha. Kemudian Syekh Saman memperindah tari Pok pok Ane dengan berbagai gerakan seperti tari saman yang dikenal saat ini.</p>
<p>Menurut Alamsyah, saman merupakan salah satu media untuk pencapaian pesan (dakwah). Tarian ini mencerminkan pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan, dan kebersamaan. “Saat turun ke sawah, atau memperingati hari besar Islam seperti Maulid Nabi Muhammad, Idul Fitri atau Idul Adha, sering digelar pertandingan saman.</p>
<p>Dijelaskan Alamsyah, saman bisa dibagi dalam dua bagian penting yakni syair yang dibawakan oleh syekh dan gerakan tarian. Pembukaan syair dimulai dengan <em>rengum</em>, yaitu pembukaan atau mukaddimah dari tari saman. “Biasanya <em>rengum</em> berisi ucapan salam pembuka atau puja puji kepada Allah dan Nabi Muhammad,” kata Alamsyah.</p>
<p>Setelah <em>rengum</em> dibacakan, biasanya segera diikuti dengan <em>dering</em>, yakni pembacaa syair oleh syekh yang diikuti seluruh penari sehingga terdengar saling bersahutan. Penari di bagian tengah sering menimpali nyanyian dengan suara pendek yang disebut dengan <em>redet</em>. Lalu ada juga istilah <em>syaek</em>, yaitu lagu yang dinyanyikan oleh seorang penari dengan suara panjang tinggi melengking, biasanya sebagai tanda perubahan gerak. Terakhir, nyanyian tersebut diulang oleh seluruh penari dan disebut dengan <em>saur</em>.</p>
<p>Gerakan dalam saman menggunakan menggunakan dua unsure gerak uatama; tepuk tangan dan tepuk dada. Itulah mengapa, di Sanggar Rempelih Gayo, Samsul Bahri tidak menerima anak sanggar perempuan karena ada gerakan tepuk dada. Beberapa daerah pernah mengombinasikan penari perempuan dan laki-laki. “Itu pun tidak kami lakukan,” tambah Samsul.</p>
<p>Ia menambahkan, syair yang dibawakan biasanya berisi pesan-pesan moral dan sarat nilai keagamaan. Mereka masih mempertahankan keaslian saman Gayo. Beberapa saman lain, sudah melakukan improvisasi seperti menambah dengan suara <em>rapai</em> atau gendang.***</p>
<p><strong>Dari Gayo untuk Dunia</strong></p>
<p>SAMAN merupakan tarian tradisional masyarakat Gayo yang bisa dikatakan masyarakat terpencil di Aceh. Masyarakat di daerah Gayo seperti Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayoe Lues, dan beberapa daerah lainnya, menggunakan bahasa Gayo dalam kehidupan sehari-hari. bahasa Gayo berbeda jauh dengan bahasa Aceh yang digunakan masyarakat pesisir. Misalnya saja di Kabupaten Bireuen yang hanya sekitar dua jam perjalanan darat dari Takengon, ibukota Kabupaten Aceh Tengah, memiliki bahasa yang berbeda. Bukan hanya bahasa, budayanya secara spesifik juga berbeda.</p>
<p>Namun, tari saman bukan hanya milik masyarakat Gayo. Masyarakat Aceh pesisir seperti di Lhokseumawe dan Aceh Utara juga mempelajari dan menampilkan tari saman, tidak hanya di Aceh melainkan juga di berbagai kota di Indonesia. Bira Agustin (24), salah seorang penari yang kini melatih saman, mengaku sudah menampilkan saman di Medan, Padang, Riau, Batam, Manado, Jakarta, NTT, Bali, dan Semarang. Bira sudah mengenalkan tari saman ke luar negeri seperti di Singapura, Brunai, Australia, dan Malaysia. “Bahkan untuk Malaysia, hampir setiap tahun kami menampilkan saman, selain seudati yang memang sangat dikenal di luar negeri,” ungkap mahasiswa STAIN Malikussaleh Lhokseumawe itu.</p>
<p>Alamsyah Ariga (24) mempunyai pandangan lain tentang saman yang banyak dikenal terutama di luar Aceh. Menurut Alamsyah masyarakat luar hanya mengenal saman sehingga banyak tari serupa kemudian dikaitkan dengan saman. “Bisa jadi itu likok pulo atau rapai geleng, tapi karena dibawakan penari dari Aceh maka dikira sama,” tuturnya.</p>
<p>Ia mengakui sekarang ini tari saman sudah banyak yang diimprovisasi dengan tari modern, baik dalam syair maupun gerakannya. Namun, ia berharap hal itu tidak sampai menghilangkan keaslian tari saman dari daerah Gayo. “Saman itu ‘kan bukan sekadar tari, tetapi menjadi media dakwah,” tutur Alamsyah.</p>
<p>Adalah suatu kebanggaan bagi Alamsyah jika saman menjadi kekayaan budaya dunia. Makanya ia sangat mendukung upaya Unesco mematenkan saman sebagai tari tradisional masyarakat Gayo yang menjadi bagian dari kebudayaan milik dunia. “Saya juga bermimpi suatu saat juga ada sekolah tari saman di luar negeri,” kata Alamsyah.</p>
<p>Pemuda itu juga sudah menampilkan saman di berbagai kota besar di Indonesia dan juga di Malaysia, China, dan Amerika Serikat. Akhir Juni 2010, grup Alamsyah tampil di China.</p>
<p>Kesempatan melanglang buana juga dinikmati para penari dari Sanggar Rempelih Gayo sampai ke Spanyol dan Amerika Serikat serta sejumlah negara lainnya. Seluruh perjalanan para penari tersebut, kian mengukuhkan  saman sebagai salah satu kekayaan budaya dunia.[]</p>


<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samanculturalmagazine.com/sihir-saman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ziarah Batin ke Makam Tgk Syik Pante Riek</title>
		<link>http://samanculturalmagazine.com/ziarah-batin-ke-makam-tgk-syik-pante-riek/</link>
		<comments>http://samanculturalmagazine.com/ziarah-batin-ke-makam-tgk-syik-pante-riek/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Aug 2010 12:43:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thayeb Loh Angen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Editorial]]></category>
		<category><![CDATA[Aceh Darussalam]]></category>
		<category><![CDATA[Banda Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[Gampong Pante Riek]]></category>
		<category><![CDATA[H Harun Keuchik Leumiek]]></category>
		<category><![CDATA[Krueng Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[Makam Tgk Syik Pante Riek]]></category>
		<category><![CDATA[Thayeb Loh Angen]]></category>
		<category><![CDATA[Visit Banda Aceh Years 2011]]></category>
		<category><![CDATA[Walikota Banda Aceh Mawardy Nurdin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samanculturalmagazine.com/?p=759</guid>
		<description><![CDATA[KOMPLEK makan tua itu terkesan tak terawat. Ahad 1 Agustus 2010 lalu, warga Pante Riek bergotong royong membersihkan situs bersejarah tersebut.
Jika ada orang mengatakan bahwa di kota seperti Banda Aceh telah hilang tradisi dan budaya kekompakan, meuseuraya (gotong royong) ala Aceh, maka kemarin tanggal 1 Agustus 2010, saya buktikan itu salah. Itu terjadi di Gampong [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_764" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://samanculturalmagazine.com/wp-content/uploads/2010/08/makam.jpg"><img class="size-medium wp-image-764" title="makam" src="http://samanculturalmagazine.com/wp-content/uploads/2010/08/makam-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">SAMAN CULTURAL MAGAZINE | ZULHAM YUSUF</p></div>
<p><strong>KOMPLEK</strong> makan tua itu terkesan tak terawat. Ahad 1 Agustus 2010 lalu, warga Pante Riek bergotong royong membersihkan situs bersejarah tersebut.</p>
<p>Jika ada orang mengatakan bahwa di kota seperti Banda Aceh telah hilang tradisi dan budaya kekompakan, meuseuraya (gotong royong) ala Aceh, maka kemarin tanggal 1 Agustus 2010, saya buktikan itu salah. Itu terjadi di Gampong Pante Riek, Mukim Lueng Bata, Kota Banda Aceh saat gotong royong membersihkan Makam Teungku Syik Pante Riek. Muda dan tua sama banyaknya hadir di sana.</p>
<p>Pante Riek adalah gampong di tepian Krueng Aceh yang bertetangga dengan Lamseupueng, gampongnya penyelamat barang antik bersejarah dan budayawan H Harun Keuchik Leumiek.</p>
<p>Saya heran juga awalnya, ketika saya tiba di areal Kompleks Makam Teungku Syik yang dikelilingi kebun melinjau telah ada seratusan orang. Sebagian mereka duduk atas tempat apa saja yang layak diduduki, baik itu tanggul kayu, rumput, sandalnya sendiri, bahkan ada yang duduk atas tanah langsung. Mereka lagi istirahat setelah kelelahan membersihkan areal makan, mereka ke sana atas ajakan Taufik, Ketua Pemuda Pante Riek.</p>
<p>Para penduduk yang masih memelihara budaya kebersamaan itu sedang menunggu masaknya nasi dan lauk sapi. Sambil menunggu masaknya nasi dan gulai sapi, penduduk yang hadir di sana diajak bersamadiah dulu, yang turut dihadiri seluruh perangkat gampong, termasuk Keuchik Pante Riek dan Imum Mukim Lueng Bata.</p>
<p>Ketua Pemuda Pante Riek, Taufik, mengatakan, Makam Teungku Syik adalah peninggalan masa Kerajaan Aceh yang usianya diperkirakan di awal kerajaan Aceh berdiri, mungkin Teungku Syik Pante Riek hidup sebelum Iskandar Muda jadi rajadiraja Aceh Darussalam.</p>
<p>Di areal yang telah dipagari dengan besi lembing yang ditanam atas pondasi semen belasan tahun lalu itu oleh pemerintah, terdapat puluhan makam bernisan aneka ukuran. Ada yang nisannya berbentuk mahkota ratu, diduga di bawahnya bersemayam putri raja atau ratu, ada beberapa makam bernisan serupa.</p>
<p>Nisan lain berbentuk trisula berbunga mirip nisan Lakseumana Keumala Hayati. Ada nisan ukuran kecil, sekecil paha orang dewasa, ada yang sebesar tubuh orang dewasa, bahkan ada yang ukurannya setinggi orang dewasa.</p>
<div id="attachment_767" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://samanculturalmagazine.com/wp-content/uploads/2010/08/makam2.jpg"><img class="size-full wp-image-767 " title="makam2" src="http://samanculturalmagazine.com/wp-content/uploads/2010/08/makam2.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">SAMAN CULTURAL MAGAZINE | ZULHAM YUSUF</p></div>
<p>Namun sebagian besar nisan itu telah miring karena didera masa. Beberapa makam itu terdapat tubuh makam yang ditutupi batu berukiran indah dari kepala sampai kaki (keranda batu berukir). Bila dilihat dari jauh, makam bertubuh ditutupi batu berukiran indah itu terlihat patah, namun bila kita dekati, ternyata tubuh makam berbatu tersebut bukan patah, tapi keranda batu berukir itu terdiri dari dua potong yang disambung dengan lekukan yang dibentuk untuk saling mengait, jadi tidak terlepas begitu saja dan tidak patah jika sebagian tanahnya longsor.</p>
<p>Bentuk nisan berukiran indah di Komplek Makam Teungku Syik yang bermacam-macam diduga sebagai penanda siapa yang bersemayam di bawahnya. Makam untuk raja, permaisuri, putra mahkota, putri raja, perdana mentri, panglima, hulu balang, imum mukim punya bentuk berbeda.</p>
<p>Tahun dan sejarah lengkap tentang siapa yang bersemayam di Komplek Makam Teungku Syik belum ada yang tahu pasti, belum ada yang berhasil menelitinya walau di Aceh banyak guru, dosen, mahasiswa dan pemerhati sejarah.</p>
<p>Tugas kita masih banyak, ribuan makam indatu belum kita rawat, harus dibuktikan bahwa kita generasi setia, bukan pengkhianat sejarah. Keuchik Pante Riek mengatakan, sebagian data tentang Makam Teungku Syik tersimpan di Badan Kepurbakalaan dan Peninggalan sejarah Provinsi Aceh.</p>
<p>Belasan tahun lalu, setelah dipugar, ada dua bulan diberikan honor untuk merawatnya, setelah itu, sampai hari ini dana rawat makam itu tiada lagi. Entah memang tidak dianggarkan atau ada anggaran tapi tidak sampai, hanya yang berwewenang yang tahu. Penduduk Pante Riek mengharapkan ada perhatian dari pemerintah untuk komplek makam ini, paling tidak, adalah sebuah balai tempat orang berdoa atau salah hajat di sana. Beberapa tahun lalu, di makam tersebut ada orang yang datang bernazar, kini jarang terlihat.</p>
<p>Seorang penduduk Pante Riek, Fendi, mengatakan, dari cerita turun temurun di Gampong Pante Riek, di makam utama komplek makam tersebut ada sebatang pohon keutapang besar berdiri. Di antara celah batang dan akar pohon itu, ada mata air yang tidak pernah mengering walau musim kemarau melanda Banda Aceh.</p>
<p>Dalam beberapa banjir raya, komplek makam tersebut tidak pernah didatangi air bah walau jaraknnya hanya beberapa ratus meter dari Krueng Aceh. Menurut kepercayaan penduduk Pante Riek, tidak sampainya air bah ke makam itu walau banjir raya datang karena Makam Teungku Syik diberi kelebihan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.</p>
<p>Peristiwa serupa, yakni tidak sampainya air ke makam saat banjir raya, juga terjadi di Makam Sultan Malikussaleh di Samudra Pasai, Aceh Utara yang menurut bentuk nisan Teungku Syik Pante Riek dan Sultan Malikussaleh hidup di era yang sama, dan sama-sama tokoh besar, bedanya Teungku Syik Pante Riek tidak dicatat sejarah secara luas, Sultan Malikussaleh dikenal dalam sejarah dunia.</p>
<p>Menurut cerita turun temurun di Pante Riek, dulu di makam utama, di perdu pohon keutapang, ada benda-benda seperti piring dalam jumlah banyak di sana. Para penduduk yang mau berkenduri tinggal meminjam piring dari makam. Tapi itu dulu, sebelum ada tangan jahil yang tidak mengembalikan piring yang mereka pinjam. Keserakahan seorang itu membuat kemudahan ratusan bahkan ribuan orang lain sampai generasi setelahnya pun hilang.</p>
<p>Cerita serupa juga terdapat di Paloh Dayah, Muara Satu Lhokseumawe, bedanya, kalau di Pante Riek piring keluar dari makam, maka di Paloh Dayah piring itu keluar dari kolam seluas dua belas kali dua belas meter.</p>
<p>Gotong royong membersihkan makam situs sejarah peninggalan masa Kerajaan Aceh di Pante Riek adalah inisiatif penduduknya, bukan perintah dari siapapun, dan begitulah seharusnya seluruh penduduk Aceh bersikap untuk situs sejarah indatunya.</p>
<p>Walikota Banda Aceh Mawardy Nurdin mengatakan, semua situs sejarah di kawasan Pemerintah Kota Banda Aceh telah didata demi lestarinya situs penting sebagai khasanah Aceh. “Kita sudah data semua situs sejarah yang ada di wilayah Pemerintah Kota, hanya saja belum semua kita rehab atau pugar karena dana Pemerintah Kota Banda Aceh terbatas,” kata Mawardy Nurdin.</p>
<p>Situs sejarah di wilayah Kota Banda Aceh jika dilestarikan oleh semua penduduknya dan didukung fasilitas oleh pemerintah, maka Banda Aceh dapat segera menjadi Kota Budaya. Dan ini amat terkait dan mendukung program Pemerintah Kota yang menjadikan Banda Aceh sebagai Bandar Wisata Islami Indonesia, dengan program pencapaiannya bertajuk “Visit Banda Aceh Years 2011.”</p>
<p>Walikota Banda Aceh mengharapkan penduduk Banda Aceh, baik penduduk asli maupun pendatang yang sudah menetap di Banda Aceh untuk menyukseskan program Pemerintah Kota Banda Aceh. Kegiatan yang dilakukan oleh penduduk Pante Riek dengan membersihkan cagar budaya Makam Teungku Syik merupakan tindakan mulia dari generasi yang menghargai peninggalan indatunya.</p>
<p>Walikota mengharap penduduk Banda Aceh diminta mendukung penuh visi misi Pemerintah Kota untuk membangun ibukota provinsi Aceh yang sudah berusia lebih 805 tahun. Penduduk Kota diminta berpola hidup bersih dan sehat menyonsong Visit Banda Aceh tahun 2011dan mewujudkan Banda Aceh sebagai Bandar Wisata Islami Indonesia.</p>
<p>“Kebesihan diri dan lingkungan serta pola hidup sehat harus menjadi sesuatu target seluruh masyarakat Kota Banda Aceh untuk mewujudkannya dalam menyonsong Visit Banda Aceh tahun 2011dan menjadikan Banda Aceh sebagai Bandar Wisata Islami Indonesia,” kata Mawardy Nurdin.</p>
<p>Penduduk Banda Aceh harus bersinergi membangun kota yang bersih dan sehat karena penduduk merupakan tulang punggung Kota Banda Aceh. Keberhasilan Pemerintah Kota Banda Aceh mendapatkan Anugrah Adipura dari Presiden RI beberapa waktu lalu merupakan berkat usaha seluruh penduduk Kota yang harus selalu dipertahankan.</p>
<p>“Dukungan penduduk sangat dibutuhkan untuk mewujudkan Banda Aceh sebagai Bandar Wisata Islami Indonesia. Yang disebut Kota Banda Aceh adalah perangkat pemerintah dan seluruh penduduknya. Pemerintah dan penduduk adalah sebuah kesatuan yang utuh untuk mencapai visi misi Banda Aceh,” kata Mawardy.</p>
<p>Jika ada program atau kebijakan Pemerintah Kota yang belum dipahami penduduk, agar didiskusikan dengan Humas Pemerintah Kota untuk dikomunikasikan dengan baik. “Kami bangga kepada penduduk Banda Aceh yang selama ini mendukung penuh setiap visi misi pemerintah. Dukungan tersebut selalu dibutuhkan, dan kami berterima kasih atas semua dukungan tersebut,” jelas Mawardy.</p>
<p>Mawardy mengatakan, dukungan media massa merupakan juru kunci keberhasilan Pemerintah kota Banda Aceh. Selain penduduk, media adalah pembangun opini publik yang berperan penting menyukseskan kemajuan Banda Aceh.</p>
<p>“Pemerintah Kota Banda Aceh bangga pada penduduk dan berterima kasih terhadap dukungannya sehingga beberapa prestasi berhasil dicapai Pemerintah Kota,” kata Mawardy.</p>
<p>Pemberitaan media massa merupakan juru kunci mendukung visi misi Pemerintah dan rakyat Kota Banda Aceh menyonsong Visit Banda Aceh Year 2011 untuk mencapai Banda Aceh sebagai Bandar Wisata Islami Indonesia. Pemerintah berterima kasih kepada penduduk dan media massa. Penduduk Pante Riek telah membersihkan cagar budaya Makam Teungku Syik sebagai bukti mereka generasi yang menghargai peninggalan indatunya.</p>
<p>Kegiatan penduduk Pante Riek, membantah semua klaim sebagian orang yang menuding penduduk ibukota seperti Banda Aceh tidak lagi punya tradisi dan budaya kekompakan ala Aceh yang santun penuh persaudaraan.</p>
<p>Tanggal 1 Agustus 2010, kemarin, menghargai cagar budaya, telah dimulai di Pante Riek oleh penduduknya, tinggal penduduk gampong lain seantero Aceh melakukan hal serupa. Gampong Pante Riek, Mukim Lueng Bata, Kota Banda Aceh telah menghormati indatunya yang bersemayam di bawah batu nisan berukiran penuh seni indah di Komplek Makam Teungku Syik Pante Riek.</p>
<p>Jika makam-makam bernilai sejarah yang tersebar seantero Aceh dirawat seperti di Pante Riek, maka Aceh bisa dijadikan cagar budaya semuanya karena begitu banyaknya makam para raja dan pahlawan perang yang belum dihargai sebagaimana seharusnya jasa para pahlawan yang membangun atau mempertahankan negeri itu dulu berjuang. Kebudayaan dan peradaban Aceh yang tersisa adalah warisan berharga dan penting untuk jatidiri bangsa ini.</p>
<p>Penyelamatan dan pengembangannya harus dilakukan semua kita generasi Aceh yang masih hidup agar dapat kita wariskan kepada generasi mendatang, sebagai hadiah, sebagai bukti bahwa kita adalah bangsa yang agung, karena hanya bangsa yang menghargai sejarahnya menjadi bangsa agung di dunia.</p>
<p style="text-align: right;"><em>Thayeb Loh Angen, Inisiator Lembaga Budaya Saman</em></p>
<p style="text-align: left;">Dimuat di Halaman FOKUS Harian Aceh, Rabu 4 Agustus 2010</p>


<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samanculturalmagazine.com/ziarah-batin-ke-makam-tgk-syik-pante-riek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SAMAN CULTURAL FESTIVAL ( Pameran Industri Internasional Sepanjang 2 Kilometer on January 2011, Banda Aceh)</title>
		<link>http://samanculturalmagazine.com/lambhuk-fest-2010-pameran-industri-internasional-sepanjang-2-kilometer-3-10-oktober-2010-banda-aceh/</link>
		<comments>http://samanculturalmagazine.com/lambhuk-fest-2010-pameran-industri-internasional-sepanjang-2-kilometer-3-10-oktober-2010-banda-aceh/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jul 2010 22:25:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thayeb Loh Angen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Iklan]]></category>
		<category><![CDATA[Banda Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[Lembaga Budaya Saman]]></category>
		<category><![CDATA[Visit Banda Aceh Year 2011]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samanculturalmagazine.com/?p=753</guid>
		<description><![CDATA[
SAMAN CULTURAL FESTIVAL Lambhuk Street 2011
Pameran Industri internasional dan pertunjukan seni kebudayaan sepanjang 2 kilometer dari Jembatan Simpang Beurawe ke Simpang BPKP Banda Aceh, dan di Jalan Baru di selatan Simpang BPKP
Menampilkan
A. LONG MARCH KEBUDAYAAN DAN PERADABAN pada sore Minggu oleh ribuan
pelajar dan mahasiswa.
Malamnya pembukaan dengan menyanyikan lagu &#8216;SAMAN CULTURAL&#8221; Diiringi Tarian Seudati secara massal [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://samanculturalmagazine.com/tentang-saman-cultural-magazine/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Lahirnya Lembaga Budaya Saman dan SaMaN Cultural Magazine&#8221;'>Lahirnya Lembaga Budaya Saman dan SaMaN Cultural Magazine&#8221;</a> <small> Pada tanggal 10 Agustus 2009, beberapa pemerhati budaya mengadakan...</small></li>
<li><a href='http://samanculturalmagazine.com/lasqi-aceh-berikan-anugrah-seni-saat-festival-bintang-vokalis-gambus-propinsi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: LaSQI Aceh Berikan Anugrah Seni Saat Festival Bintang Vokalis Gambus Propinsi'>LaSQI Aceh Berikan Anugrah Seni Saat Festival Bintang Vokalis Gambus Propinsi</a> <small>Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Lembaga Seni Qasidah Indonesia (LaSQI) Aceh...</small></li>
<li><a href='http://samanculturalmagazine.com/festival-lagu-daerah-dan-pertunjukan-nandong-akbar/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Festival Lagu Daerah dan Pertunjukan Nandong Akbar'>Festival Lagu Daerah dan Pertunjukan Nandong Akbar</a> <small>SUASANA Festival Lagu Daerah dan Pertunjukan Nandong Akbar (Kedang Safano)...</small></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="../wp-content/uploads/2010/07/Visit-Banda-Aceh-2011.jpg"><img title="Visit Banda Aceh 2011" src="../wp-content/uploads/2010/07/Visit-Banda-Aceh-2011-300x75.jpg" alt="" width="300" height="75" /></a></p>
<p>SAMAN CULTURAL FESTIVAL Lambhuk Street 2011</p>
<p>Pameran Industri internasional dan pertunjukan seni kebudayaan sepanjang 2 kilometer dari Jembatan Simpang Beurawe ke Simpang BPKP Banda Aceh, dan di Jalan Baru di selatan Simpang BPKP</p>
<p>Menampilkan</p>
<p>A. LONG MARCH KEBUDAYAAN DAN PERADABAN pada sore Minggu oleh ribuan<br />
pelajar dan mahasiswa.</p>
<p>Malamnya pembukaan dengan menyanyikan lagu &#8216;SAMAN CULTURAL&#8221; Diiringi Tarian Seudati secara massal Spektakuler dengan 1000 peseni Tarian Seudati.</p>
<p>B. PAMERAN</p>
<p>1. Pameran Produk Industri internasional<br />
a. Otomotif<br />
b. Informasi Teknologi<br />
c. Percetakan<br />
d. Penerbitan<br />
e. dan lain-lain.</p>
<p>2. Pameran kuliner</p>
<p>C. PERTUNJUKAN SENI</p>
<p>1. Tarian Seni Kreasi<br />
2. Pertunjukan seni dari negara-negara sahabat<br />
3. Pertunjukan seni terpilih</p>
<p>D. MENCAPAI REKOR MURI KEDAI KOPI TERPANJANG DENGAN JAMUAN KULINER DAN MINUMAN KEBUDAYAAN</p>
<p>1. Bersama Menteri-Menteri<br />
2. Bersama Utusan Negara Sahabat<br />
3. Bersama Gubernur-Gubernur<br />
4. Bersama Direktur-Direktur Perusahaan Industri<br />
5. Bersama seluruh camat, Imum Mukim dan Keuchik se-Kota Banda Aceh.</p>
<p>E. KONTES</p>
<p>1. Kontes Toko dan gedung terindah dan bersih<br />
2. Kontes Merancang Busana<br />
3. Kontes Tari Kreasi</p>
<p>F. KONGRES MULTI LEVEL</p>
<p>1. Kongres Industri Asia Tenggara<br />
2. Kongres Desainer Pakaian se-Asia Tenggara<br />
3. Kongres Kebersihan kota Banda Aceh.</p>
<p>PANITIA:</p>
<p>PEMERINTAH KOTA BANDA ACEH, LEMBAGA BUDAYA SAMAN</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://samanculturalmagazine.com/tentang-saman-cultural-magazine/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Lahirnya Lembaga Budaya Saman dan SaMaN Cultural Magazine&#8221;'>Lahirnya Lembaga Budaya Saman dan SaMaN Cultural Magazine&#8221;</a> <small> Pada tanggal 10 Agustus 2009, beberapa pemerhati budaya mengadakan...</small></li>
<li><a href='http://samanculturalmagazine.com/lasqi-aceh-berikan-anugrah-seni-saat-festival-bintang-vokalis-gambus-propinsi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: LaSQI Aceh Berikan Anugrah Seni Saat Festival Bintang Vokalis Gambus Propinsi'>LaSQI Aceh Berikan Anugrah Seni Saat Festival Bintang Vokalis Gambus Propinsi</a> <small>Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Lembaga Seni Qasidah Indonesia (LaSQI) Aceh...</small></li>
<li><a href='http://samanculturalmagazine.com/festival-lagu-daerah-dan-pertunjukan-nandong-akbar/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Festival Lagu Daerah dan Pertunjukan Nandong Akbar'>Festival Lagu Daerah dan Pertunjukan Nandong Akbar</a> <small>SUASANA Festival Lagu Daerah dan Pertunjukan Nandong Akbar (Kedang Safano)...</small></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samanculturalmagazine.com/lambhuk-fest-2010-pameran-industri-internasional-sepanjang-2-kilometer-3-10-oktober-2010-banda-aceh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konferensi Bansigom Donja II WAA Dibuka Wakil Wali Kota Aalborg</title>
		<link>http://samanculturalmagazine.com/konferensi-bansigom-donja-ii-waa-dibuka-wakil-wali-kota-aalborg/</link>
		<comments>http://samanculturalmagazine.com/konferensi-bansigom-donja-ii-waa-dibuka-wakil-wali-kota-aalborg/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Jul 2010 20:17:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thayeb Loh Angen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Editorial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samanculturalmagazine.com/?p=747</guid>
		<description><![CDATA[
Konferensi dan silaturrahmi II WAA pada hari kedua Jumat 23 Juli 2003 dibuka pada jam 9.00 pagi oleh Wakil Walikota Aalborg (kota nomor 4 terbesar di Denmark) Mrs. Helle Frederiksen untuk membuka Konferensi Bansigom Donja II WAA tersebut. Kehadiran Wakil Wali Kota Aalborg mendapat sambutan hangat dari peserta dan delegasi yang berada di ruang pertemuan.
Mrs [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://samanculturalmagazine.com/wp-content/uploads/2010/07/Helle-Frederiksen-Wakil-Walikota-Aalborg-tengah-gambar-bersama-peserta-Konferensi-dan-Silaturrahmi-Bansigom-Donja-II-WAA-di-Denmark-Foto-Dok-WAA1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-751" title="Wakil Walikota Aalborg Mrs. Helle Frederiksen berpose bersama peserta Konferensi dan Silaturrahmi Bansigom Donja II WAA di Denmark Foto: WAA" src="http://samanculturalmagazine.com/wp-content/uploads/2010/07/Helle-Frederiksen-Wakil-Walikota-Aalborg-tengah-gambar-bersama-peserta-Konferensi-dan-Silaturrahmi-Bansigom-Donja-II-WAA-di-Denmark-Foto-Dok-WAA1-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p>Konferensi dan silaturrahmi II WAA pada hari kedua Jumat 23 Juli 2003 dibuka pada jam 9.00 pagi oleh Wakil Walikota Aalborg (kota nomor 4 terbesar di Denmark) Mrs. Helle Frederiksen untuk membuka Konferensi Bansigom Donja II WAA tersebut. Kehadiran Wakil Wali Kota Aalborg mendapat sambutan hangat dari peserta dan delegasi yang berada di ruang pertemuan.</p>
<p>Mrs Helle Frederiksen menyampaikan kegembiraannya dan menyampaikan selamat datang kepada para tamu dari Aceh dan dari negara lainnya yang telah hadir di Konferensi dan Silaturrahmi Bansigomdonja II WAA.</p>
<p>”Kami mengucapkan selamat datang di kota Aalborg,” seru Mrs Helle Frederiksen.</p>
<p>Mrs Helle Frederiksen mengatakan, kota Aalborg yang memiliki penduduk 970.000 jiwa dikenal dulunya dengan kota industri, namun kini diubah bentuknya sehingga menjadi sebuah kota pusat budaya, dengan pendapatan yang semakin baik.</p>
<p>Wakil walikota berkenan menyaksikan Tarian Ranup Lampuan persembahan Groep Putroe Aceh -sebuah grup tarian dan seni yang dibentuk masyarakat Aceh di Denmark.</p>
<p>Dalam masa yang singkat para delegasi sempat gambar bersama dan saling memperkenalkan diri  masing-masing kepada wakil walikota yang berjanji mencari waktu di antara Senin dan Selasa depan agar para delegasi terutama dari Aceh bisa datang berkunjung ke kantor pemerintah kota Aalborg.</p>
<p>Acara dilanjutkan dengan penyampaian sambutan dari anak-anak Aceh dengan cara melantukan Caé Aceh yang cukup mendapat sambutan dari peserta. Kemudian Konferensi diteruskan dengan pemakaran pidato masing-masing. Sesi Panel (I) ini di mulai oleh Bakhtiar Abdullah (Mantan Juru Runding GAM) menyampaikan Pelaksanaan MoU Helsinki dan Masa Ukeu Perdamaian Aceh (Pelaksanaan MoU Helsinki dan dasa depan perdamaian Aceh).<span id="more-747"></span></p>
<p>Bakhtiar mengatakan, perdamaiaan Aceh merupakan salah satu perdamaian yang baik bahkan telah menjadi contoh penyelesaian kepada konflik-konflik lain di dunia. Sebenarnya, kata Bakhtiar, ada banyak hal yang sudah berjalan di Aceh setelah perdamaian ditandatangani, namun masih ada hal-hal yang masih sedang akan berlangsung, yang penting sekali masyarakat Aceh yakin dengan perdamaian dan terus melakukan upaya-upaya meperkuatnya seperti bagaimana melobi agar UUPA benar-benar sesuai MoU dan berjalan efektif  di Aceh sesuai dengan kesepakatan.</p>
<p>Zulkarnaini Abdullah (Rektor STAIN Zawiyah, Cot Kala Langsa) yang menyampaikan kohesi sosial untuk memperkuat perdamaian Aceh menyebutkan bahwa untuk membangun perdamaian Aceh berkaitan sekali dengan pembangunan neuheut (kehendak), kepentingan dan kebutuhan masyarakat banyak.</p>
<p>”Jika hal ini tidak bisa dipenuhi eksekutif dan legislatif maka sikap memberontak rakyat akan selalu timbul, jadi pemerintah perlu memenuhi tuntutan ini agar kemudian perdamaian berjalan dan berkembang seperti di inginkan,” kata Zulkarnaini.</p>
<p>Setelah pause <em>jep kupi</em> ( minum kopi) dari 10.55 &#8211; 11.05, Fajran Zain Analisis Aceh Institute berbicara menyangkut Relasi Aceh dan Jakarta Pasca MoU dan Kaitannya dengan Kesinambungan Perdamaian Aceh. Fajran mengatakan pemerintah Aceh sangat perlu mempersiapkan tim yang bekerja keras untuk melobi berbagai proses perdamaian agar berjalan sesuai MoU. Kata Fajran, hal lain juga bisa dilihat adanya manipulasi Jakarta dan ketidaktahuan pihak-pihak tertentu di pemerintah Indonesia dengan UUPA tampak dari beberapa peraturan yang disahkan pemerintah tidak menyetuh hal-hal dalam MoU dan UUPA.</p>
<p>Fauzi Umar (TA Bapeda Aceh dan redaktor Tabloid Tabangun Aceh) kelahiran Aceh Selatan  memaparkan makalahnya menyangkut program jangka panjang Aceh. Fauzi mengatakan Bapeda Aceh telah dan terus berupaya melakukan membuat konsep pembangunan Aceh jangka panjang.</p>
<p>”Mudahan perdamaian di Aceh adalah perdamaian yang selamanya sehingga semua rencana kita tercapai. Namun kita sangat perlu menentukan Aceh ini harus dibawa ke mana, dalam artian apakah kita ke pertanian, ke tehnologi, ke maritim dan sebagainya,” kata Fauzi.</p>
<p>Konferensi dan silaturrahmi II WAA berehat pada jalan 12.00 siang dengan masuknya waktu jumat. Acara di lanjutkan pada jam 15.00 petang dengan sesi tanya jawab, antara pertanyaan yang menonjol tetap tertuju pada isi-isi MoU dan keberlajutan perdamaian Aceh.</p>
<p>Begitu sesi tanya jawab usai, Makmur Habib Abdulghani (Tim Koordinator Support WAA) bangun berbicara, antara isi yang di sampaikan bahwa pelaksanaan perdamaian Aceh sangat di sayangkan karena sudah mencapai hampir mencapai 5 tahun tapi masih saja ada banyak hal yang tidak sesuai dengan MoU, menurut Makmur, hal ini hanya bisa dilakukan oleh GAM, namun pertanyaannya apakah GAM itu masih ada atau tidak, makmur mengakhiri ucapannya.</p>
<p>Saiful (Aktivis WAA) memaparkan pandangan nya bahwa hasil yang dicapai di Helsinki adalah merupakan sebuah hasil yang hebat dan bagus, penyelesaian Aceh, MoU telah membuaka sebuah jalan baru bagi Aceh untuk menuju ke mana yang di citakan.</p>
<p>”Kita semua perlu bekerja keras untuk mendorong agar apa yang dijanjikan berjalan di Aceh. Untuk apa bercerita merdeka kalau Self-Goverment saja tak sanggup kita jalankan,” kata Saiful.</p>
<p>Nurmala Syahabuddin (Ketua Devisi Budaya WAA dan Ketua Putroe Aceh) mengatakan bahwa orang Aceh di luar negeri sudah bekerja maksimal memperkenalkan Aceh kepada orang-orang luar.</p>
<p>”Namun ada hal dan kendala yang terbesit, kami tidak memiliki cukup perlengkapan untuk mengkempanyekan Aceh di luar, kami hanya punya baju tarian kami tidak memili persedian yang mencukupi untuk sebuah promosi, sekalipun demikian kami terus bekerja untuk Aceh, kami berharap kepada pemerintah Aceh untuk membuka mata agar Aceh bisa diperkenalkan ke seluruh dunia.</p>
<p>Liya Ustaya dan Feby Usman (Anngota Putroe Aceh) anatara anak Aceh yang aktif melakukan berbagai kegiatan untuk Aceh menyampaikan kepada hadirin bahwa kami inginkan anak-anak Aceh bisa bersekolah seperti kami di Denmark, kaki berharap tidak ada penjajahan baru ala modern terjadi terhadap anak-anak Aceh sehinga bangsa Aceh akan selalu tertinggal lagé cangguk di yueb bruek (bagaikan katak di bawah tempurung), maka dengan itu kami mewakili anak-anak Aceh di luar negeri berharap agar pemerintah peduli dengan pendidikan untuk anak dengan segala kebutuhannya.</p>
<p>Lukman Age (Direktur Aceh Institute), membangun komunikasi yang efektif dalam transisi perdamaian Aceh, Perjuangan kebersamaan yang pernah dilakukan secara bersama di Aceh sekarang terlihat sekarang mulai berpecah-pecah karena kebanyakan tindakan yang dilakukan saat ini di Aceh tertumpu pada hal-hal kecil seperti tersibukkan dengan hal-hal yang sifatnya jangka pendek.</p>
<p>Lukman Age mengatakan dengan perdamaian ini Aceh sebenarnya bisa terus memanfaatkan situasi untuk tetap pada posisi perjuangan. Kalau dulu, misalnya Tgk Hasan Tiro bisa mengirim anak-anak Aceh ke Libiya, sekarang hal itu bisa di lakukan dengan mengirim anak-anak Aceh sebanyak mungkin untuk mendapatkan ilmu di luar negeri.</p>
<p>”Kita harap kedepan komunikasi-komunikasi antara seluruh komponen di Aceh agar lebih baik, sehingga semua aktor akan bisa melakukan kerja dengan di posisi masing-masing artinya Aceh ini bisawa dibawa ke arah yang ditujukan sama,” kata Lukman.</p>
<p>Maka untuk mengisi berbagai kekuatan dan kemajuan di Aceh Lukman Age melihat kekuatan besar di Aceh sebenarnya ada pada GAM, apalagi mereka punya sayap-sayap, ada PA, ada KPA dan ada GAM, dengan ini sebenarnya, menurut Lukman, Aceh  masih sangat mungkin untuk meneruskan cita-cita kita masyarahakat hidup sejahtera.</p>
<p>Ruyani Daud (Aktivis WAA, mewakili perempuan di Denmark) mengatakan, dalam pelaksanaan pembangunan di Aceh agar dilibatkan perempuan di segala sektor dan tidak ada terjadi lagi diskriminasi terhadap perempuan-perempuan di Aceh, dan pelaksanaan demokrasi di Aceh perlu dilaksanakan secara nyata.</p>
<p>Zamah sari (Jurnalis/Harian Aceh) berbicara menyikapi Implementasi MoU Hingga tahun ke 5 belum berjalan semestinya. Perdamaian Aceh adalah sebuah perdamain yang perlu didukung namun para stakholder perlu membuktikan dan mengimplementasikan semua poin-poin MoU yang sebenarnya merupakan harapan semua rakyat awam di Aceh.</p>
<p>“Hal yang paling penting adalah UUPA perlu sesuai MoU dan hukum sangat penting dijalankan di Aceh. Tolonglah rakyat yang sudah lelah menanti kebenaran, menanti implementasi MoU yang sesuai dengan perjanjian yang ditanda tangani,” kata Zamahsari.</p>
<p>Ihsanuddin (Ketua KNPI Aceh dan sektaris DPW PPP Aceh) mengkhawatirkan pembangunan Aceh ke depan bukan semakin maju tapi akan semakin mundur antara lain disebabkan nilai, dikhawatirkan ke depan lebih minim dari yang pernah didapatkan sebelumnya.</p>
<p>“Perlunya kerja keras orang Aceh untuk menginformasikan kepada masyarakat internasional bahwa Aceh sudah bagus, Aceh sudah bisa dikunjungi oleh masyarakat intersional, yang penting sekali masyarakat Aceh perlu menjaga identitasnya sampai kapan pun, termasuk perlu secepatnya mebuka duta-duta Aceh di luar negeri,” kata seorang yang pernah mencalonkan diri sebagai bupati Pidie Jaya ini.</p>
<p>Khaidir (Anggota DPRK Aceh Utara), sebagai pembicara yang terakhir pada hari kedua Konferensi dan Silaturrahmi II WAA membuka ucapannya dengan membacakan syair Arab dan terjemahannya dalam bahasa Aceh <em>&#8220;Bék tasangka yang njoe rakan yang jak sajan waté kaya, tetapi yang njoe rakan yang jak saja dalam keu runda&#8221;</em> (Jangan anggap teman itu yang selalu bersama ketika kaya, tetapi yang benar teman adalah yang selalu bersama ke dalam keranda).</p>
<p>Anggota DPRK Aceh Utara tersebut mengatakan bahwa kalau dulu Aceh Utara dikenal sebagai petro dolar, Aceh Utara bisa membantu kabupaten-kabupaten lainnya, tapi sekarang keuangan Aceh Utara sangat morat marit.</p>
<p>“Kami di Aceh Utara akan berusa sekuat tenaga untuk keluar dari halangan-hangan itu. Dan kita yakin jika semuanya punya komitmen maka pastinya semuanya akan bisa dilakukan, kita harap pertemuan ini menjadi antara sebahagian dari itu.</p>
<p>Peserta berehat pada jam 7.00 masuk (Makan), setalah sejenak berehat, acara dilanjutkan dengan membentuk komisi dan menyusun nama-nama anggota yang siap duduk di komisi-komisi yang telah di putuskan secara bersama.</p>
<p>Komisi-Komisi tersebut adalah, Komisi -A (Evaluasi MoU, Self-Government dan Strategi Advokasi), Komisi -B (Ekonomi – Pembangunan), Komisi – 3 (Sosial, Budaya dan Pendidikan), Komisi -4 (Pemerintahan, Pemilu 2011 &amp; Konsul Aceh). Rapat komisi tersebut berjalan 24 Juli 2010.<strong></strong></p>


<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samanculturalmagazine.com/konferensi-bansigom-donja-ii-waa-dibuka-wakil-wali-kota-aalborg/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lembaga Wali Nanggroe</title>
		<link>http://samanculturalmagazine.com/lembaga-wali-nanggroe/</link>
		<comments>http://samanculturalmagazine.com/lembaga-wali-nanggroe/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jul 2010 18:19:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thayeb Loh Angen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Editorial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samanculturalmagazine.com/?p=743</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini menjawab analisis HARIAN ACEH, Senin 14 Juni 2010 oleh Murthalamuddin berjudul “Masih Pentingkah Lembaga Wali Nanggroe?” Begitu membaca tulisan tersebut, saya ingin langsung mejawabnya, namun baru kali ini ada kesempatan. 
UUPA mengamanahkan sebuah lembaga Wali Nanggroe untuk kepentingan masa depan rakyat dan pemerintahan di Aceh. Hasan Tiro memang tidak ingin melembagakan jabatan ini karena target utamanya adalah  medapatkan kedaulatan Aceh, [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://samanculturalmagazine.com/konser-perdana-wali-band-di-aceh/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Konser Perdana Wali Band di Aceh'>Konser Perdana Wali Band di Aceh</a> <small>VOKALIS Wali Band Faank, tampil memukau dalam konser yang berlangsung...</small></li>
<li><a href='http://samanculturalmagazine.com/konferensi-bansigom-donja-ii-waa-dibuka-wakil-wali-kota-aalborg/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Konferensi Bansigom Donja II WAA Dibuka Wakil Wali Kota Aalborg'>Konferensi Bansigom Donja II WAA Dibuka Wakil Wali Kota Aalborg</a> <small> Konferensi dan silaturrahmi II WAA pada hari kedua Jumat...</small></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini menjawab analisis HARIAN ACEH, Senin 14 Juni 2010 oleh Murthalamuddin berjudul “Masih Pentingkah Lembaga Wali Nanggroe?” Begitu membaca tulisan tersebut, saya ingin langsung mejawabnya, namun baru kali ini ada kesempatan. </p>
<p>UUPA mengamanahkan sebuah lembaga Wali Nanggroe untuk kepentingan masa depan rakyat dan pemerintahan di Aceh. Hasan Tiro memang tidak ingin melembagakan jabatan ini karena target utamanya adalah  medapatkan kedaulatan Aceh, tapi bukankah GAM-RI telah berdamai, dan semua tindakan di zaman ini harus sesuai dengan itu, perjanjian itu harus dilaksanakan, karena melaksanankan janji adalah sikap bangsa terhormat. </p>
<p>Lembaga wali naggroe yang dimaksudkan kini harus dipahami sebagai hak rakyat Aceh atas kekhususannya. Semua ini terkait sejarah awal proklamasi RI. Propinsi penopang republik adalah Jogjakarta dan Aceh, namun Jogjakarta lebih dekat dengan Jakarta sehingga kepedulian terhadap mereka lebih besar. </p>
<p>Kini, dia ntara kelebihan Jogja dengan Aceh, bahwa Sultan Hamengkubowono adalah gubernur, tapi di Aceh, keturunan raja tidak ada lagi, baru ada wali nanggroe (wali Negara) yang diploklamirkan kembali oleh Hasan Tiro. Kini, kesempatan mendapatkan kekhususan itu datang lagi walau bukan itu tujuan utama, namun persuasif sebuah pengembangan bangsa adalah mutlak harus diperhatikan dan diikuti. </p>
<p>Lembaga Wali Nanggro harus segera dimusyawarahkan dan dibentuk lalu disahkan, semacam pemerintahan di Jogjakarta. Jika di Jogjakarta, gubernurnya adalah Sultan Hamengkubuwono, maka di Aceh yang disebut gubernur periode ke depan adalah Wali Naggroe. Ini terjadi jika kita berpikir jauh ke depan dan bersama mendukung perbaikan sistem pemerintahan di Aceh. </p>
<p>Kita tidak menyamakan Jogjakarta dengan Aceh, jauh sekali dari semua hal, termasuk karakter etnik dan historisnya, tapi ini cuma perbandingan untuk zaman ini, karena kini Aceh bukan lagi kemaharajaan terkuat di Asia Tenggara, tapi bagian dari NKRI, sama seperti Jogjakarta. </p>
<p>Konflik sekian lama dan bencana alam di Aceh telah membuat krisis kepercayaan dalam segala bidang, termasuk tidak ada lagi tokoh kharismatik yang dihormati. Kita di Aceh perlu menciptakan tokoh kembali, harus sama-sama memperjuangkan kepercayaan diri kita bahwa Aceh bisa kita bangun di zaman ini.</p>
<p> Memang, wali nanggro diperkenalkan pertama kali oleh Hasan Tiro sebagai  tokoh Aceh paling berpengaruh di Akhir abad 20 M dan awal abad 21 M di Aceh dan Indonesia. Kita tahu, setiap sikap kritis orang Aceh atau penduduk Aceh sejak 1976 sampai dunia kiamat, adalah pengaruh Hasan Tiro, jadi pengaruhnya meluas tidak dapat dibendung. </p>
<p>Pengaruh Hasan Tiro bahkan masuk ke dalam setiap kepala orang Aceh atau di luar Aceh, walau orang tersebut tidak suka atau tidak setuju GAM. Pengaruh Hasan Tiro bukan milik paten GAM (walau dipatenkan dalam gerakan tersusun rapi dan kuat), tapi milik publik.</p>
<p>Aceh dihormati oleh negara RI dengan menyamakan kedudukan dalam perundingan Helsinki adalah karena Hasan Tiro. Ada beberapa partai lokal, ada Dinas Syariat Islam, ada WH, ada MPU, ada yang lain-lain yang dipropinsi lain tidak ada adalah pengaruh Hasan Tiro, baik itu diakui atau tidak, disukai atau tidak.</p>
<p>Hasan Tiro telah muncul dan meninggalkan perubahan politis di Aceh dan Indonesia. Ada calon independen atau nantinya partai lokal di daerah selain Aceh adalah pengaruh itu juga.</p>
<p>Lawan utamanya adalah Suharto, dalam hal itu Suharto kalah dengan Hasan Tiro masih hidup setelah Suharto mangkat dan dihormati RI dan diberi kewarganegaraan sebelum Hasan Tiro wafat (menurut isu yang dikabarkan media, kenyataan Cuma diketahui bebarapa orang dan itu rahasia mereka).</p>
<p>Hasan Tiro memang melawan semua lawan politiknya, tapi tidak bisa menang dengan misi dirinya karena ia wafat sebelum Aceh Merdeka sebagaimana impiannya.</p>
<p>Setelah Hasan Tiro wafat, maka peradaban Aceh dan dunia politiknya lebih rentan, dan inilah Aceh baru, Aceh yang dalam bayang-bayang impian Hasan Tiro. Tidak ada gading yang tak retak, maka dalam setiap sejarah, harusnya dikenang dari dua sisi.</p>
<p>Dalam hukum alam, pembawa perubahan seperti Hasan Tiro hanya dilahirkan seorang dalam kurun waktu seratus tahun di antara jutaan yang lain.</p>
<p>Peradaban Aceh, khususnya dalam dunia politik telah diubah total oleh Hasan Tiro, itu tidak mungkin dikembalikan ke masa sebelum itu. Maka, kini kita sebagai orang yang masih hidup, perlu menyesuaikan pemikiran dan membuka pikiran terhadap yang terjadi.</p>
<p>Kini, jika kita mampu membantu DPRA membentuk Lembaga Wali Nanggro, maka budaya pemerintahan Aceh yang rapi kita dapatkan kembali dan setelahnya yang menjadi gebernur memang orang yang dihormati seperti Hamengkubuwono di Jogjakarta. Jika ini terjadi, maka di periode mendatang, kita bisa menyebut, ‘Gubernur Aceh ke sekian adalah Wali Nanggroe ke sekian.’</p>
<p> Ini disebut kesadaran pada kenyataan zaman, bahwa suasana politik Aceh kini bukan lagi seperti kemarin. Jika kita dari pemikir, media, dan tokoh publik bersinergi, apapun bisa kita lakukan. Persatuan dan saling mendukung adalah segalanya. Selamat menyongsong hadirnya Lembaga Wali Nanggroe dan Gubernur Aceh periode mendatang kita sebut Wali Nanggroe.</p>
<p style="text-align: right;">Dimuat di Kolom Analisis Harian Aceh, Senin 19 Juli 2010</p>
<p style="text-align: right;"><em>Thayeb Loh Angen, Inisiator-Pendiri Lembaga ‘Perempuan Hadir’ dan Inisiator-Pendiri Lembaga Budaya Saman.</em></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://samanculturalmagazine.com/konser-perdana-wali-band-di-aceh/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Konser Perdana Wali Band di Aceh'>Konser Perdana Wali Band di Aceh</a> <small>VOKALIS Wali Band Faank, tampil memukau dalam konser yang berlangsung...</small></li>
<li><a href='http://samanculturalmagazine.com/konferensi-bansigom-donja-ii-waa-dibuka-wakil-wali-kota-aalborg/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Konferensi Bansigom Donja II WAA Dibuka Wakil Wali Kota Aalborg'>Konferensi Bansigom Donja II WAA Dibuka Wakil Wali Kota Aalborg</a> <small> Konferensi dan silaturrahmi II WAA pada hari kedua Jumat...</small></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samanculturalmagazine.com/lembaga-wali-nanggroe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesenian Aceh Menangis</title>
		<link>http://samanculturalmagazine.com/kesenian-aceh-menangis/</link>
		<comments>http://samanculturalmagazine.com/kesenian-aceh-menangis/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jul 2010 11:50:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman RN</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esay]]></category>
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[Irwandi Yusuf]]></category>
		<category><![CDATA[Kesenian]]></category>
		<category><![CDATA[MURI]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Budaya Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[TBA]]></category>
		<category><![CDATA[UNESCO]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samanculturalmagazine.com/?p=739</guid>
		<description><![CDATA[ACEH patut bangga atas terdaftarnya tari saman di UNESCO tahun ini. Tari saman kini sudah dianggap sebagai warisan budaya dunia dari Aceh. Diyakni pengeklaiman negara luar terhadap tari saman tidak terjadi lagi. Karenanya, kesenian Aceh patut menangis, tangis yang haru tanda bahagia.
Selain itu, kesenian Aceh juga telah membuat Gubernur Irwandi Yusuf menjadi ‘naik prestise’ di [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>ACEH</strong> patut bangga atas terdaftarnya tari saman di UNESCO tahun ini. Tari saman kini sudah dianggap sebagai warisan budaya dunia dari Aceh. Diyakni pengeklaiman negara luar terhadap tari saman tidak terjadi lagi. Karenanya, kesenian Aceh patut menangis, tangis yang haru tanda bahagia.</p>
<p>Selain itu, kesenian Aceh juga telah membuat Gubernur Irwandi Yusuf menjadi ‘naik prestise’ di mata masyarakat. Seperti dibeberkan media kampung ini, Gubernur Aceh memperoleh sertifikat MURI atas nama tari saman.</p>
<p>Terlepas dari haru suka tersebut, pantas pula ditanyakan apakah kesenian Aceh hanya terbatas pada tari saman semata sehingga ke mana-mana hanya tari ini saja yang disebut-sebut dan dibawa? Bagaimana nasib kesenian lainnya, bahkan bukan hanya tarian, termasuk alat musik dan syair seperti <em>nandong, pepongotan, sebuku</em>?</p>
<p>Jika itu ditanyakan, kebiasaan pejabat negeri ini tentu akan menjawab secara politis bahwa jenis kesenian yang lainnya “menunggu waktu atau butuh proses yang panjang”. Segala sesuatu apalagi yang membutuhkan pengakuan dunia memang butuh proses dan waktu yang sangat panjang. Akan tetapi, yang tak habis pikir bagi saya yang awam ini adalah mengapa hanya sanggar itu-itu saja yang memperkenalkan kesenian Aceh ke ‘panggung dunia’, misalnya untuk memperkenalkan tari saman saja, harus sanggar-sanggar itu saja yang mengesankan tak ada sanggar lain di Aceh. Apakah memang sanggar lain di Aceh ini mandul? Tak mampu berkarya? Atau memang lagi-lagi terkendala soal dana?</p>
<p><strong>Dana dan Kesenian</strong></p>
<p>Perkara dana memang hal sangat utama, termasuk dalam dunia kesenian. Jika boleh saya menduga mengapa sanggar itu-itu saja yang berangkat keluar negeri, ini hanya perkara kesempatan. Kesempatan di sini adalah kesempatan memperoleh dana.</p>
<p>Beberapa seniman di Taman Budaya Aceh (TBA) tatkala saya tanya mengapa sanggar mereka tidak mencoba memperkenalkan kesenian Aceh ke luar, jawaban yang saya peroleh rata-rata sama. Untuk  berangkat ke luar Aceh, jangankan ke luar negeri, ke pulau Jawa saja, butuh dana yang sangat besar. Sanggar-sanggar kecil yang berproses dengan alam di TBA tak mampu memperoleh dana untuk membawa <em>crew-</em>nya ke luar. Sedangkan sanggar pemerintahan, katakanlah sanggar-sanggar asuhan di Pendopo Pemerintahan, punya ‘parit uang’ sehingga dapat leluasa berangkat ke luar kapan saja mereka mau. Apabila pelaku kesenian di sanggar-sanggar pendopo itu menginginkan ke Paris, mereka cukup menggali ‘parit uang’ ke arah Paris. Jika ingin ke Jepang, Thailan, Malaysia, dan negara-negara besar lainnya, pemikir dan pelaku kesenian pendopo ini juga melakukan hal yang sama.</p>
<p>Pintarnya lagi, sanggar pendopo tersebut langsung berada di bawah pemerintah daerah, di samping juga meletakkan unsur dari pemerintahan sebagai pemimpin, pembina, atau ketua harian langsung di sanggar tersebut.</p>
<p>Bukan berarti saya menolak kehadiran dan keberadaan sanggar-sanggar pemerintahan ini. Namun, patut dipikirkan oleh Pemerintah Aceh dan pemerintah daerah bahwa masih banyak sanggar-sanggar lain yang memang murni dari ‘akar rumput’ juga membutuhkan perhatian pemerintah. Jika hanya dengan memberikan biaya air mineral untuk sanggar-sanggar kecil ketika mengadakan pementasan, itu pun harus colok proposal dengan segala birokrasi, saya kira sangat tidak seimbang dengan sanggar pendopo yang diberikan ‘gaji’ dan tiket pulang pergi plus uang saku.</p>
<p>Saya yakin, sanggar-sanggar kecil, baik sanggar kampus maupun sanggar akar rumput di Taman Budaya itu, juga menginginkan hal sama seperti sanggar-sanggar asuhan pemerintah di pendopo. Coba amati, sanggar pendopo mampu memberangkatkan orang hingga ratusan ke luar negeri dan berlangsung hampir setiap bulan, dengan tiket dan uang saku yang memadai, apakah tidak mungkin sanggar-sanggar kecil menangis menyaksikan hal ini? Mereka, sanggar-sanggar kecil itu, jangankan berangkat ke luar, untuk tampil dalam kota saja, mati-matian menghadapi birokrasi pemerinatahan. Mereka ajukan prposal ke lembaga dewan, dapat jawaban sudah dilihkan soal tersebut ke dinas. Tatkala dicolok proposal ke dinas, dinas akan berkata tak ada plot untuk kesenian tahun ini, atau alasan lainnnya semisal belum dibahasnya anggaran oleh dewan.</p>
<p>Bukankah perlakukan serupa ini sangat tidak adil dalam dunia kesenian? Atau di mata pemerintah negeri ini, hanya sanggar-sanggar pendopo saja yang mampu mebawakan kesenian Aceh secara maksimal? Saya belum yakin jika diadakan ‘tunang’ kesenian tradisi antara sanggar pendopo dengan sanggar-sanggar akar rumput di kampus atau TBA, sanggar pendopo akan lebih unggul. Patut pula dicermati bahwa para penari di sanggar pendopo itu awalnya juga dari sanggar-sanggar jalanan akar rumput.</p>
<p>Sungguh, satu sisi dunia kesenian Aceh menangis bangga, di sisi lain menangis pilu karena dikucilkan oleh pemerintahnya sendiri. Maka itu, sudah semestinya pemerintah berlaku adil, sebelum sanggar-sanggar kecil akar rumput menuntut sanggar-sanggar pendopo ditiadakan. Semoga saja tidak sampai terjadi![]</p>
<p><em>Penulis adalah Inisiator Lembaga Budaya Saman.</em></p>


<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samanculturalmagazine.com/kesenian-aceh-menangis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Telah Beredar Cetakan II Buku ACEH dari sultan iskandar muda ke HELSINKI</title>
		<link>http://samanculturalmagazine.com/telah-beredar-cetakan-ii-buku-aceh-dari-sultan-iskandar-muda-ke-helsinki/</link>
		<comments>http://samanculturalmagazine.com/telah-beredar-cetakan-ii-buku-aceh-dari-sultan-iskandar-muda-ke-helsinki/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jul 2010 15:04:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thayeb Loh Angen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Iklan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samanculturalmagazine.com/?p=736</guid>
		<description><![CDATA[ 
ACEH dari sultan iskandar muda ke HELSINKI
 Karya; Harry Kawilarang 
Editor; Murizal Hamzah
Cetakan II.  xxiv + 230 hlm. 14.8 cm x 21 cm / Juni 2010
Rp 42.000,-
 ***
Benarkah Aceh pernah menawarkan Pulau Sabang dijual ke Amerika Serikat? Siapa yang melobi Pemerintah Amerika? Apa keuntungan yang diterima Aceh dan kewajiban Amerika?
 Adakah pejuang Aceh yang bisa bahasa Inggris dan [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://samanculturalmagazine.com/penakluk-dari-timur/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Penakluk dari Timur'>Penakluk dari Timur</a> <small>DI Barat, di Selatan, di Utara, di Barat Daya, di...</small></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p><strong>ACEH dari sultan iskandar muda ke HELSINKI</strong></p>
<p> <strong>Karya; </strong><strong>Harry Kawilarang </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Editor; Murizal Hamzah</strong></p>
<p><strong>Cetakan II.  xxiv + 230 hlm. 14.8 cm x 21 cm / Juni 2010</strong></p>
<p><strong>Rp 42.000</strong>,-</p>
<p><strong> </strong>***</p>
<p>Benarkah Aceh pernah menawarkan Pulau Sabang dijual ke Amerika Serikat? Siapa yang melobi Pemerintah Amerika? Apa keuntungan yang diterima Aceh dan kewajiban Amerika?</p>
<p> Adakah pejuang Aceh yang bisa bahasa Inggris dan Belanda dan gemar membaca koran dalam bahasa Belanda dan Inggris? Mengapa panglima perang itu membeli saham minyak pertambangan milik Belanda di Aceh Timur? Semua ada dalam buku ini.</p>
<p> Baca pula seputar Partai Lokal di Aceh…</p>
<p> ***</p>
<p><em>”Saya tidak tahu pasti, mengapa sejarah Aceh mesti disimpan di bawah karpet alias disembunyikan dari pengamatan pengunjung. Saya berkeyakinan, sejarah itu harus ditulis apa adanya. Manis atau pahit”</em>.</p>
<p><strong>Irwandi Yusuf</strong></p>
<p><em>Mantan Negosiator GAM</em></p>
<p><em> </em><em>”Sejarah selalu diwarnai oleh zaman dan sumber yang diakses oleh penulis. Tidak pernah ada sejarah tentang apa saja yang seratus persen obyektif atau benar apalagi tentang daerah konflik yang sekarang damai. Yang penting bahwa suara baru didengar, fakta-fakta yang tidak pernah diketahui dimuat dan analisa tajam keluar, supaya bisa jadi bahan-bahan untuk dipikirkan. Sudah waktunya Aceh menjadi fokus perhatian para sejarawan supaya kita semua bisa mengerti kenapa konflik meledak dan bagaiman perdamaian bisa dipertahankan.”</em></p>
<p><strong>Sidney Jones</strong></p>
<p><em>Ahli Tentang Indonesia</em></p>
<p><strong> </strong><em>”Sejarah panjang kubangan darah di Aceh itulah sejarah perang Aceh. Harry Kawilarang menulis jeritan hatinya tentang tumpah ruah darah dibumi tanah rencong itu, lebih 700 tahun lalu dimulai ketika Pasai jatuh ketangan Majapahit sampai penandatangan MoU Helsinki.</em></p>
<p><strong>Teungku Imam Syuja’</strong></p>
<p><em>Anggota DPR RI Asal Aceh</em></p>
<p> <em>”Wow. Buku yang dapat menghangatkan hati dan menginspirasi kita untuk menulisnya kembali. Saya terhanyut membacanya sampai tuntas”</em></p>
<p><strong>Mukhlisuddin Ilyas</strong></p>
<p><em>Penulis Buku ‘Aceh dan Romantisme Politik’</em></p>
<p><em> </em><em>”Harry yang bukan orang Aceh berhasil mengeksplorasi sejarah Aceh dengan sangat baik. Harry bagai saudara jauh yang pulang dan mengumpulkan kembali berbagai fakta yang terserak di negeri indatu. Buku ini sangat naratif dan begitu deskriptif, apalagi Harry&#8212;sang penulisnya&#8212;berhasil mengungkapkan banyak detail tentang berbagai fakta sosial dan budaya yang selama ini belum tentu setiap orang Aceh sendiri mampu memahaminya dengan baik”</em></p>
<p><strong>Fairus M Nur Ibrahim</strong></p>
<p><em>Pemimpin Redaksi Acehpoint</em></p>
<p> ***</p>
<p><em>Sudah Beredar bukunya di toko buku jaringan Gramedia dan lainnya di pulau Jawa dan sejumlah toko buku di Aceh. Seperti Zikra, El Risalah, Aufa Book Store, Gucci, Rumah Buku, Taufiqiyah, dll</em></p>
<p><em> </em><em>Dapatkan diskon dengan memesan langsung ke Penerbit Bandar Publishing di:</em></p>
<p><strong>BANDAR Publishing</strong></p>
<p>Jl. Lingkar Kampus. Ds. Rukoh<strong></strong></p>
<p>Darussalam – Banda Aceh 23111</p>
<p>Pesanan SMS : 08126949569</p>
<p>email: <a rel="nofollow" href="mailto:bandar.publishing@gmail.com" target="_blank">bandar.publishing@gmail.com</a></p>
<p> atau ke</p>
<p><strong>BANDAR KUPI</strong></p>
<p>Jln. Teungku Lamgugob, Desa Lamgugob (Samping Kantor Camat Syiah Kuala) Banda Aceh. Telepon 0651-7551580. HP 0812699020. E-mail <a rel="nofollow" href="mailto:cafebandar.kupi@gmail.com" target="_blank">cafebandar.kupi@gmail.com</a></p>
<p> <strong>“jadilah Anda sebaga pembaca pertama buku berharga ini”</strong></p>
<p> Salam Kami,</p>
<p> <strong>Lukman Emha</strong></p>
<p><em>Manager Operasional BANDAR Publishing</em></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://samanculturalmagazine.com/penakluk-dari-timur/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Penakluk dari Timur'>Penakluk dari Timur</a> <small>DI Barat, di Selatan, di Utara, di Barat Daya, di...</small></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samanculturalmagazine.com/telah-beredar-cetakan-ii-buku-aceh-dari-sultan-iskandar-muda-ke-helsinki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
