Subscribe via RSS Feed Connect with me on Flickr
banner

Budaya dan Peradaban Ruh Negara dan Bangsa

(Refleksi Pertemuan Pangdam IM dengan Lembaga Budaya Saman)

Mayjen Hambali Hanafiah

Pertemuan pangdam IM dengan perwakilan Lembaga Budaya Saman pada 1 Februari 2010 di markas Kodam IM menjadi tonggak sejarah baru bagi kebudayaan di negeri ini, bahwa militer yang bertanggung jawab menjaga keamanan dan keutuhan negara secara fisik bersedia memperkuat keutuhan negara secara ruhnya, yakni membangun budaya dan peradaban.

Ini berawal dari inisiatif  Lembaga Budaya Saman melayangkan surat kepada Panglima Kodam Iskandar Muda (Pangdam IM), Mayjen Hambali Hanafiah. Lebih dua minggu setelahnya, Pangdam IM bersedia membuat pertemuan, ditetapkan pada 1 Februari 2010. Pertemuan yang berlangsung di ruang kerja Pangdan IM tersebut membahas tentang kebudayaan dan perdamaian Aceh.

Pertemuan tersebut mulai jam 11.30 WIB sampai salat zuhur -lebih satu jam,- Pangdam IM menegaskan bahwa TNI di Aceh mendukung gerakan budaya dan peradaban secara langsung, karena menurutnya sejarah tentara Indonesia berbeda dengan tentara negara luar yang hanya menfokuskan pada kemiliteran.

“TNI punya sisi kemasyarakatan secara luas, jadi kita amat mendukung gerakan kebudayaan yang merakyat, karena TNI juga berasal dari rakyat, TNI di Aceh telah punya program tentang festival seni dan budaya yang berbaur dengan masyarakat dan TNI terlibat langsung sebagai peserta. Kehadiran TNI di Aceh kini untuk memperkuat perdamaian yang berbasis kebudayaan,” kata Hambali Hanafiah.

Wakil Direktur Lembaga Budaya Saman, Teuku Kemal Fasya, mengatakan, seharusnya dialog kebudayaan lintas kekuasaan di Aceh lebih sering lagi dilakukan agar muncul pemikiran alternatif yang lebih jernih dan berperspektif kebudayaan.

“Pimpinan tertinggi legislatif, eksekutif dan militer di Aceh sepantasnya bertemu langsung dan mendiskusikan Aceh masa depan secara elegan, sederhana, dan berkomitmen pada kebenaran,” kata Teuku Kemal Fasya.

Inisiator sekaligus Sekretaris Lembaga Budaya Saman, Musmarwan Abdullah, mengatakan, secara undang-undang, TNI dan masyarakat bersatu, jadi TNI dan masyarakat tidak ada gap. Tapi, kata Musmarwan, karena gap tersebut telah terlanjur ada saat konflik, maka kini image masyarakat terhadap TNI harus dinetralisir sebagaimana penyatuan angkatan tentara dengan masyarakat pasca 1945.

“Satu di antara metode penyatuan kembali TNI dan masyarakat adalah melalui pendekatan kebudayaan. Penyatuan yang telah dirancang pangdam kini amat berpengaruh besar terhadap hubungan baik antara TNI dan masyarakat, sehingga perdamaian terus terpelihara di Aceh,” kata Musmarwan Abdullah.

Konsultan sekaligus Manager Musik dan Film Lembaga Budaya Saman, Jauhari Samalanga mengatakan, pendekatan yang diingin masyarakat adalah keseragaman antara sesama penduduk dalam negara, baik itu militer maupun sipil. Kata Jauhari, komunikasi dalam masyarakat harus berdasarkan penguatan budaya.

Manager Program dan Riset/Divisi Pemerintahan Humanis Lembaga Budaya Saman Zulfadli Kawom, mengatakan bahwa kesungguhan tentara membangun budaya dan peradaban bersama seniman dan budayawan di sebuah negara mencerminkan budaya bangsa itu maju.

Pertemuan di ruang kerja Pangdam tersebut terdihadiri para inisiator sekaligus pengelola Lembaga Budaya Saman yakni: Teuku Kemal Fasya, Jauhari Samalanga, Musmarwan Abdullah, Zulfadli Kawom, Suryadi Abdi Darma dan Thayeb Loh Angen. Sementara pengelola Lembaga Budaya Saman lain, seperti Arafat Nur, Salman Yoga S, Ayi Jufridar, Herman RN, Nurlina, Taufik Sentana Hidayat tidak bisa menghadirinya.

Oleh Thayeb Loh Angen; salah seorang inisiator dan pengelola Lembaga Budaya Saman.

Tags: , ,

Category: Humaniora

Tentang Penulis: Pemimpin redaksi Majalah Saman Cultural Magazine, Pengurus Lembaga Budaya Saman, juga penulis Novel Teuntra Atom

Komentar Anda




Sampaikan dengan sopan dan tidak mengandung sara.